Hanura

22 TAHUN HUBUNGAN DIPLOMATIK RI

Kazakhstan Gelar Dialog Antar Agama Dunia

Dengan Raja Minyak Di Luar Kawasan Timur Tengah (2)

 SELASA, 30 JUNI 2015 , 14:57:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL. Di antara bentuk kepedulian pada masalah-masalah keragaman, termasuk dalamnya isu keragaman agama-agama dan pentingnya membina dialog demi menghindari potensi konflik, Kazakhstan pun menggelar Dialog antar Agama pada 10-11 Juni 2015 lalu di Astana.
Menurut Duta Besar Kazakhstan untuk Indonesia Askhat Orazbay, dialog ini bertujuan membahas isu-isu besar yang dihadapi berbagai agama saat ini. 

"Kongres ini bertujuan memperkuat rasa hormat antar agama. Terutama di saat masalah Islamofobia makin merebak luas di dunia internasional, khususnya di barat, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa," ujarnya, di Kantor Kedubes Kazakshtan, di Jakarta.

Berbagai pemimpin agama dari seluruh dunia, lanjutnya, hadir dalam kongres tersebut. Mereka menyatukan pemikiran dalam membahas nilai umum dan bertukar pandangan.

"Kongres itu juga mengkoordinasi cara melawan terorisme yang makin banyak bertindak atas nama Islam," tegasnya.

Kongres ini, masih menurut Orazbay,  amat penting dalam mengubah pandangan dunia Barat yang cenderung menilai Islam adalah agama teroris.

Eratnya hubungan Astana-Jakarta, bisa dilihat dari begitu mulus berbagai kerjasama yang selama ini terus terjalin. Setidaknya, hanya dalam waktu dua tahun sejak pembukaan hubungan diplomatik pada 2 Juni 1993, kedua kepala negara Indonesia dan Kazakhstan telah saling melakukan kunjungan kenegaraan. Presiden Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan ke Almaty pada April 1995, yang kemudian diikuti kunjungan balasan Presiden Nursultan Nazarbayev ke Jakarta, tiga bulan berikutnya.

Kedua kunjungan kenegaraan itu pun menghasilkan perjanjian kerja sama di bidang ekonomi dan teknis, kerja sama di bidang perbankan, kerja sama di bidang kesehatan dan kerja sama antara komisi dagang dan industri kedua negara.

Kunjungan Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri RI saat itu, ke Astana untuk bertemu dengan mitra kerjanya, Marat Tazhin, pada 14 Mei 2008 merupakan tonggak bersejarah selanjutnya dalam hubungan bilateral Indonesia-Kazakhstan.

Tidak lama setelahnya, pemerintah Indonesia kemudian membuka kantor perwakilannya di Astana pada 29 Desember 2010, yang diikuti pembukaan kantor Kedutaan Besar Republik Kazakhstan di Jakarta, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Nazarbayev pada 13 April 2012.

Sejak saat itu, pejabat tingkat tinggi kedua negara telah beberapa kali saling berkunjung, baik untuk menghadiri suatu konferensi internasional maupun pertemuan-pertemuan bilateral.

Data Kemenlu juga menyebutkan, kunjungan-kunjungan tersebut termasuk kunjungan kenegaraan Presiden Kazakhstan ke Jakarta, 12 hingga 14 April 2012, dan kunjungan Wakil Presiden RI Boediono ke Astana dalam rangka menghadiri 'World Islamic Economic Forum' yang ke-7, serta kunjungan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa ke Astana pada 28 Juni 2011 untuk menghadiri 'The 38th Session of the Council of Foreign Ministers of the Organization of Islamic Cooperation', di mana Kazakhstan menjadi tuan rumah.

Kunjungan Presiden Nazarbayev ke Jakarta pada April 2012 merupakan peristiwa penting terbaru dalam hubungan bilateral Indonesia-Kazakhstan. Pertemuan bilateral antara Presiden Nazarbayev dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 13 April menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain perjanjian bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan paspor dinas dari kedua negara, yang telah berlaku efektif sejak 26 Januari 2013; dan komitmen untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral hingga lima kali.

Kedua pemimpin negara juga mendorong perusahaan-perusahaan Indonesia dan Kazakhstan untuk semakin mengintensifkan kerja sama, termasuk pembentukan perusahaan saham gabungan atau usaha patungan, baik di Kazakhstan maupun Indonesia, di sektor-sektor bisnis yang telah disepakati kedua belah pihak.

Dalam hal ini jelas terlihat bahwa interaksi dan hubungan antara Indonesia dan Kazakhstan telah meningkat dalam waktu lima tahun terakhir setelah selang cukup lama. Selain itu terdapat juga tren positif volume perdagangan antara Indonesia dan Kazakhstan sejak 2008 hingga 2012, dengan kenaikan sebesar 16,80 persen.

Sementara itu, di tahun 2012 telah terjadi kenaikan volume perdagangan lebih dari 90 persen dari tahun sebelumnya.

Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Foster Gultom, spektrum kerjasama antara Indonesia- dan Kazakhstan kini semakin meluas ke hubungan antar parlemen, yang semakin meningkatkan hubungan baik yang telah terjalin antar pemerintah dan antar kalangan pebisnis kedua negara.

Menurutnya, saat ini dan pada masa mendatang, tidak kalah penting mendorong aspek hubungan people-to-people.

Tren kunjungan wisatawan dari Indonesia ke Kazakhstan, dan sebaliknya, menunjukkan minat positif masyarakat masing-masing negara untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Hal tersebut nantinya akan menciptakan saling pengertian dan saling menghormati sejarah, kebudayaan dan peradaban, serta keindahan dan kondisi alam masing-masing negara.

Pelajar-pelajar dan akademisi Kazakh telah berpartisipasi dalam beberapa program beasiswa dan program seni budaya yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia, untuk semakin mendekatkan interaksi kedua negara, terutama di tingkat  grass roots”.

"Semuanya telah disepakati pemimpin kedua negara. Tindak lanjut kesepakatan dimaksud kini berada di tangan lembaga-lembaga pemerintah, sektor swasta dan para pemangku kepentingan lain kedua negara, sehingga hasilnya nanti akan dapat dinikmati masyarakat Kazakhstan dan Indonesia. Mudah-mudahan mimpi ini akan menjadi kenyataan," jelas Foster.

Hingga Maret lalu misalnya, upaya-upaya ini bisa dilihat, dengan digelarnya "Business Luncheon" di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di ibukota Kazakhstan, Astana, sebagai upaya mendorong sektor bisnis dalam hubungan bilateral yang telah terjalin dengan baik dan lama antara Indonesia dan Kazakhstan.

Acara ini ditujukan untuk kalangan pebisnis papan atas Kazakhstan, yang memiliki potensi membangun kerja sama dengan Indonesia. Apalagi, Indonesia telah lama menjalin hubungan bilateral dengan Kazakhstan.

"Indonesia dan Kazakhstan juga telah membentuk Komisi Bersama mengenai Kerja Sama Ekonomi dan Konsultasi Bilateral Indonesia-Kazakhstan pada tingkat menteri luar negeri," ujar Dubes RI. (Muhammad Rusmadi/Habis).


Komentar Pembaca
25 Hal Tentang Menteri Amran

25 Hal Tentang Menteri Amran

, 19 APRIL 2018 , 17:00:00

Sahabat Rocky Gerung Melawan!

Sahabat Rocky Gerung Melawan!

, 19 APRIL 2018 , 11:00:00

Syahganda Dan Eggi Sudjana Gabung PAN

Syahganda Dan Eggi Sudjana Gabung PAN

, 12 APRIL 2018 , 18:15:00

Pertemuan Tertutup PDIP-PKB

Pertemuan Tertutup PDIP-PKB

, 12 APRIL 2018 , 03:52:00

Di Tengah Cakra Buana

Di Tengah Cakra Buana

, 15 APRIL 2018 , 10:57:00