Rita Widyasari

15 Anggota Parlemen Digebuki Demonstran

Di Venezuela

Dunia  JUM'AT, 07 JULI 2017 , 09:28:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

15 Anggota Parlemen Digebuki Demonstran

Foto/Net

RMOL. Venezuela membara. Kelompok pendukung pemerintah menyerbu gedung parlemen di Caracas, ibu kota negara itu. Ratusan orang pendukung menyandera para anggota dewan. Bukan Cuma itu, massa juga menggebuki mereka. Sedikitnya ada 15 orang terluka dalam insiden ini.
Sekitar 100 orang yang mayoritas mengenakan baju merah dan meneriakkan "long live the revolution", menyerbu masuk ke dalam ruang kongres yang dikontrol oleh kelompok oposisi, Rabu pagi waktu setempat. Penyerangan dimulai sesaat setelah sidang paripurna untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Dikutip dari Reuters, mereka menerobos masuk ke Gedung Parlemen Palacio Federal Legislativo dengan bersenjatakan pipa, tongkat dan batu. Personel polisi militer yang bertugas menjaga keamanan hanya berdiri tanpa berbuat apa-apa.

Begitu gerombolan tersebut sampai di koridor gedung kongres, mereka langsung menyerang dan melukai anggota parlemen. Sejumlah anggota parlemen dipukuli oleh kelompok yang mayoritas mengenakan masker ini. Ada yang jatuh ke lantai dan ditendangi. Ada pula yang dihantam dengan pipa besi. Para anggota parlemen lain berusaha mengamankan diri di dalam kamar yang dilengkapi perabotan dan permadani.

Pihak oposisi mengatakan, tujuh anggota parlemen terluka dan lima di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Deputi juga mengatakan bahwa dua karyawan majelis terluka. Darah terlihat mengucur dari kepala para korban, membasahi kemeja mereka. Raut muka mereka linglung.

Anggota parlemen yang mengalami serangan paling buruk, Americo De Grazia, dipukul di kepala, jatuh pingsan, dan akhirnya dibawa dengan tandu ke sebuah ambulans. Keluarganya kemudian mengatakan bahwa dia telah melewati kondisi kritis dan dijahit. "Ada peluru, ada darah, ada mobil yang hancur, termasuk mobil pribadi saya," ungkap Kepala Kongres Julio Borges.

Sementara, massa yang berada di luar gedung legislatif itu mengacungkan pistol, mengancam akan memotong pasokan air dan listrik dan memainkan audio pidato bekas presiden sosialis Hugo Chavez yang mengatakan "Lusle, oligarki!".

Penyerangan itu membuat anggota parlemen, staf, wartawan dan tamu terperangkap di dalam gedung selama sembilan jam. Suasana mencekam. Selain suara teriakan, ada suara-suara ledakan yang diduga berasal dari mercon. Para "sandera" baru bisa keluar ketika petang. "Kami diculik," seru anggota parlemen oposisi William Davila dari dalam gedung kongres lewat telepon kepada wartawan saat terperangkap di dalam gedung.

Surat kabar Venezuela, Tal Cual, meyakini serangan dilakukan milisi pro-pemerintah berjuluk "colectivos". Sebab, sebelum menyerang massa yang berkumpul setelah fajar di luar gedung kongres, menyatakan mendukung Presiden Nicolas Maduro. Apalagi, sebelumnya, Wakil Presiden Madhop Tareck El Aissami tampil mendadak dalam kongres tersebut bersama dengan Kepala Angkatan Bersenjata, Vladimir Padrino Lopez, dan para menteri. El Aissami meminta para pendukung Maduro supaya datang ke legislatif demi menunjukkan dukungan bagi presiden.

Kemudian, seperti dilaporkan Newsy, saat penyerangan berlangsung, anggota parlemen sedang membahas tekanan terhadap Presiden Maduro agar melakukan referendum terhadap perubahan konstitusi negara. "Pembahasan masalah referendum itu direncanakan diselanggarakan 16 Juli 2017," kata anggota oposisi parlemen Venezuela yang menjadi korban serangan kepada media.

Sementara Presiden Nicolas Maduro tidak mengakui bahwa para penyerbu kongres adalah pendukungnya. "Saya benar-benar mengutuk perbuatan ini, saya tidak akan pernah terlibat dalam tindakan kekerasan apapun. Saya telah memerintahkan penyelidikan, dan mungkin pengadilan diadakan," tegasnya.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengecam serangan tersebut sebagai serangan terhadap prinsip-prinsip demokrasi yang dianut oleh rakyat yang berjuang demi kemerdekaan Venezuela sejak 206 tahun lalu. Amerika juga mengkritik apa yang disebut meningkatnya otoritarianisme pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Selain AS, kecaman atas serangan tersebut muncul dari Organisasi Negara-negara Amerika yang berbasis di Washington, Chile dan sebuah blok perdagangan regional yang dikenal sebagai Mercosur. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Trump Tak Dipercaya Rakyat

Trump Tak Dipercaya Rakyat

SELASA, 26 SEPTEMBER 2017

Berkuasa Lagi, Merkel Ditantang Partai Anti-Euro
Angela Merkel Kembali Jadi Kanselir Jerman
Korut Kena Batunya

Korut Kena Batunya

SENIN, 25 SEPTEMBER 2017

Pemilu Jerman, Angela Merkel Hanya Suguhkan Sedikit Kejutan
Australia Alokasi 400 Miliar Dolar AS Untuk Badan Antariksa Nasional
Panglima TNI Dinilai Tidak Tahu Prosedur

Panglima TNI Dinilai Tidak Tahu Prosedur

, 25 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Info Panglima TNI Tidak Akurat, So What?

Info Panglima TNI Tidak Akurat, So What?

, 25 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Kontes Domba Berhias

Kontes Domba Berhias

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:46:00

Kang Emil Di Gunung Padang

Kang Emil Di Gunung Padang

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:04:00