Rita Widyasari

Muslim Rohingnya, Siapa Yang Bisa Bela

Ditindas Secara Biadab

Dunia  KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 09:31:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Muslim Rohingnya, Siapa Yang Bisa Bela

Foto/Net

RMOL. Ketika jutaan umat muslim di Indonesia tengah bersiap merayakan Idul Adha, ribuan muslim di Rohingnya malah menderita. Etnis minoritas itu "dibantai" oleh militer Myanmar. Yang melarikan diri, diusir oleh negara tetangganya, Bangladesh. Siapa yang bisa bela?
Beberapa hari terakhir, rumah-rumah para etnis Rohingya ini dibakar hingga rata dengan tanah. Pembakaran ini dipicu oleh serangan terhadap 30 pos polisi pada Jumat pekan lalu. Militer Myanmar mengklaim serangan itu merupakan ulah Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Setelah itu, membabi buta, militer Myanmar menyerang Rakhine, negara bagian yang ditinggali para etnis Rohingya.

Kantor berita Al-Jazeera mengungkapkan, tentara yang telah mengumumkan perang melawan terorisme mengepung kota Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung, yang menampung sekitar 800 ribu orang. Mereka memberlakukan jam malam dari pukul 18.00 sampai 6.00.

Rumah-rumah penduduk dibakari. Berdasarkan data satelit yang dirilis Human Rights Watch (HRW) terdapat sepuluh titik api di Rakhine.

Bila dikalkulasi secara keseluruhan, panjang wilayah yang terbakar mencapai 100 kilometer. Itu lima kali lipat jika dibandingkan dengan pembakaran rumah etnis Rohingya yang terjadi pada Oktober–November tahun lalu. Saat itu, 1.500 rumah terbakar. Selain itu, para tentara Myanmar juga menembaki warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Aziz Khan, seorang penduduk Maungdaw, mengatakan, para tentara yang datang desanya pada hari Jumat pagi menembak secara membabi buta ke mobil dan rumah orang-orang. Beberapa juga melakukan pembakaran. "Perempuan dan anak-anak juga termasuk di antara korban tewas. Bahkan bayi pun ikut jadi korban," ungkapnya.

Ro Nay San Lwin, seorang aktivis Rohingya dan blogger yang berbasis di Eropa, mengatakan ada sekitar 5 sampai 10 ribu orang yang diusir dari rumah mereka.

Dengan menggunakan jaringan aktivis di lapangan untuk mendokumentasikan konflik tersebut, San Lwin mengatakan bahwa masjid dan madrasah telah dibakar habis. Ribuan muslim terdampar tanpa makanan dan tempat berlindung. "Paman saya sendiri terpaksa melarikan diri dari pemerintah dan militer," katanya kepada Al Jazeera.

Myint Lwin, penduduk kota Buthidaung, mengatakan, ketakutan telah mencengkeram keluarga di sana.

Orang-orang telah menyebarkan video tentang pembunuhan wanita dan anak-anak yang tak bersalah dibunuh dan ditembak mati. "Anda tidak bisa mulai membayangkan betapa takutnya kita," ujarnya.

Video yang diunggah di media sosial menunjukkan puluhan pria, wanita dan anak-anak melarikan diri hanya dengan pakaian di punggung mereka saat mencari perlindungan di sawah.

"Sangat menakutkan. Rumah-rumah dibakar, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas," ujar Abdullah, laki-laki berusia 25 tahun yang melarikan diri dari pembantaian itu.

Abdullah berasal dari Desa Mee Chaung Zay, di kawasan Buthidaung, di negara bagian Rakhine. Ia mengatakan empat dari enam kampung di desanya dibakar oleh aparat keamanan, yang membuat warga menyelamatkan diri ke negara tetangga, Bangladesh. Bersama ribuan warga desa, Abdullah mengungsi ke kaki Pegunungan Mayu untuk berjalan sejauh 20 km ke perbatasan Bangladesh.

Hingga saat ini dilaporkan sudah 110 jiwa tewas dalam serangan tersebut. Peristiwa tersebut merupakan yang terburuk pernah terjadi dalam lima tahun terakhir. Nasib mereka yang selamat dari pembantaian, tak kalah miris. Bangladesh menolak sekitar 6 ribu pengungsi Rohingya untuk masuk ke wilayah mereka.

Padahal, Kepala Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) Manzurul Hassan Khan, mengakui, militer Myanmar menembaki warga Rohingya yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak ketika mereka mencoba menyeberangi perbatasan.

Sekjen PBB Antonio Gutteres mendesak pemerintah Bangladesh untuk terus menerima warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan pemerintah Myanmar.

"Menyadari bahwa Bangladesh telah dengan murah hati menjamu pengungsi dari Myanmar selama beberapa dekade, Sekretaris Jenderal meminta pihak berwenang untuk terus mengizinkan Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan untuk mencari keamanan di Bangladesh," kata jubir Gutteres, Stephane Dujarric, Selasa (29/8) lalu.

Sementara Inggris mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menggelar pertemuan guna membahas laporan adanya warga sipil yang turut menjadi korban tewas dalam operasi pembersihan yang dilakukan tentara Myanmar di Rakhine.

"Inggris meminta pertemuan DK OBB mengenai situasi di Myanmar. Perlu mengatasi masalah jangka panjang di Rakhine dan semua pihak harus menahan diri," kata Duta Besar Inggris untuk PBB, Mattew Rycroft.

Bagaimana dengan Indonesia? Menlu Retno LP Marsudi berencana untuk kembali mengunjungi Myanmar untuk membahas krisis di Rohingya. Rencana ini sudah diutarakan kepada Presiden Jokowi.

"Insya Allah kita akan berkunjung ke Myanmar, kita sedang atur semuanya mudah-mudahan dapat kita segera lakukan," ungkap Retno usai bertemu dengan Presiden di Istana Kepresidenan, kemarin. Sebelumnya, Menlu Retno berkunjung ke Myanmar pada Desember 2016.

Menlu Retno mengaku sudah berkomunikasi dengan Menlu Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali dan Penasihat Presiden Myanmar Aung San Suu Kyi.

Menlu Retno akan melakukan pendekatan konstruktif agar pemerintah Myanmar dapat mengembalikan situasi keamanan di Rakhine. Retno juga akan mendorong penghentian semua kekerasan karena yang menjadi korban adalah warga sipil sehingga aspek kemanusiaan perlu terus diutamakan.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafidz meminta pemerintah Indonesia mengevaluasi hubungan bilateral dengan Myanmar. "Sebagai negara yang sudah lama bersahabat dengan Myanmar, kami khawatir tindakan pembersihan etnis akan mengancam stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara," tegasnya.

Meutya mendesak agar Myanmar diberikan tekanan yang lebih keras, misalnya melalui organisasi tingkat regional maupun internasional. "Indonesia bisa bawa permasalahan ini ke PBB, untuk dilakukan sidang darurat," tegasnya. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

, 21 SEPTEMBER 2017 , 21:00:00

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

, 21 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

, 20 SEPTEMBER 2017 , 14:10:00

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

, 20 SEPTEMBER 2017 , 05:05:00

Bijak Menggunakan Internet

Bijak Menggunakan Internet

, 20 SEPTEMBER 2017 , 15:23:00

Misbakhun Aktor Di Balik Penggembosan KPK dan Setya Novanto
Jokowi Harus Panggil Gatot Soal Penayangan Film G30S/PKI
TV Mana Yang Nekat Siarin Film <i>G30S/PKI </i>

TV Mana Yang Nekat Siarin Film G30S/PKI

Politik20 September 2017 09:37

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Olahraga20 September 2017 08:45

Kopassus Gelar Nobar G30S/PKI, Masyarakat Cijantung Antusias