Rita Widyasari

Menimbang Masa Depan PM. Najib Razak

Dunia  MINGGU, 03 SEPTEMBER 2017 , 08:44:00 WIB

Menimbang Masa Depan PM. Najib Razak

Najib Razak/Net

SEMAKIN mendekati hari Pemilu tahun depan, suasana politik di Malaysia nampak terasa makin hangat. Skisma atau pertentangan antara PM Najib dengan tokoh senior dan "father of modernization of Malaysia" Mahathir menjadi-jadi.
Mahathir secara intensif serius melancarkan kecaman atas tindakan mega koruptif Najib, menuntut mundur Najib sebagai PM dan kampanyekan untuk menangkan kekuatan aliansi oposisi dalam pemilu yang segera tahun depan akan diselenggarakan. Dukungan terhadap Mahathir terus mengalir apalagi sejak ada kesepakatan aliansi Mahathir-Anwar melawan status quo.

Tidak sedikit pimpinan penting UMNO melepaskan jabatan dan juga dipecat oleh Najib karena berpindah haluan menjadi musuh politiknya. Bagi UMNO,  semula yang paling dihawatirkan adalah Anwar Ibrahim meskipun masih dipenjara. Kekuatiran ini tentu beralasan karena dua pemilu terakhir UMNO mengalami kemerosotan signifikan dan ini adalah kerja leadership Anwar yang sangat efektif.

Perkembangan terakhir, kehawatiran UMNO menjadi semakin besar karena kemunculan tokoh politik sangat senior Mahathir sebagai tokoh terdepan menentang Najib dan UMNO. Mahathir mendorong Anwar ibrahim menjadi PM menggantikan Najib. Tentu Najib, UMNO dan Barisan Nasional semakin terjepit. Dia menyadari betul bahwa isu mega korupsi ini sangat mengancam kredibilitas dan posisi politik Najib dan UMNO Barisan Nasional secara keseluruhan. Karena itu, yang harus dilakukan adalah menjelaskan ke masyarakat secara nasional dan internasional jika diperlukan bahwa Najib itu bersih, tidak korupsi; uang yang diterima itu bukan korupsi. Ini langkah defensifnya. Langkah yang sifatnya ofensif juga dilakukan.

Penghalang Najib

Kehadiran Mahathir sebagai penentang keras politik Najib akhir-akhir ini terasa sangat merepotkan. Nampak kejengkelan tak terbendung terhadap Mahathir,  sebagaimana dulu Mahathir juga jengkel terhadap Anwar Ibrahim. Berbeda dengan nasib Anwar yang kemudian dipenjarakan dengan tuduhan Sodomi yang hingga saat ini belum terselesaikan, pemerintah Najib menghapus nama Mahathir misalnya dalam buku buku pelajaran di sekolah-sekolah. Memori kolektif tentang Mahathir harus dihapus. Artinya, jasa besar Mahathir selama memimpin dalam membangun dan memodernisasi Malaysia harus terhapus. Dalam peringatan HUT kemerdekaan Malaysia, Mahathir juga tidak nampak karena konon memang tidak diharapkan hadir.

Untuk membangun imej negatif, ada upaya-upaya untuk menghubungkan Mahathir dengan leluhur Indianya. Mahathir sendiri merasa tidak terganggu dengan cara-cara ini. "Silakan hapus nama saya, silakan sebut saya keturunan India." Meskipun demikian,  idak sedikit juga sebetulnya yang memberikan reaksi serius terhadap perlakuan pemerintah yang tidak fair seperti ini.

Bahkan, saat ini ada upaya serius agar Mahathir diperiksa kekayaannya. 22 tahun pemerintahan Mahathir, memberikan peluang besar bagi Mahathir,  keluarga dan kroninya untuk melakukan tindakan-tindakan koruptif. Isu korupsi Mahathir sebetulnya juga pernah dicuatkan oleh Anwar Ibrahim akhir tahun 1990 dan ini juga membuat kenyamanan Mahathir sangat terganggu. Jadi, tidak berlebihan juga untuk mengatakan bahwa sebetulnya Najib mengikuti jejak Mahathir untuk melawan atau menghabisi musuh-musuh politiknya dengan cara-cara yang cukup keras.  

Sebetulnya, kecenderungan tangan besi atau otoriter dari penguasa bukan cerita baru dalam sejarah politik di berbagai tempat. Bahkan, bisa menelan korban jiwa. Malaysia modern, misalnya, tentu saja juga pernah mengalami peristiwa traumatik tahun 1969 karena blody clash antar etnis tak bisa dihindari. Tentu banyak korban jiwa dari peristiwa politik berdarah ini. Gerakan reformasi 1998 yang digerakkan Anwar Ibrahim dihawatirkan mendorong  "second blody clash" sebagaimana kerusuhan yang terjadi di Indonesia. Akan tetapi,  Malaysia terselamatkan tentu saja setelah penangkapan terhadap tokoh-tokoh penting termasuk Anwar Ibrahim dilakukan.

Era pemerintahan Abdullah Badawi boleh dikatakan jauh lebih lunak dan stabil karena pak Lah personalitinya memang cool dan bahkan tidak melakukan perlawanan apa-apa saat Mahathir mencegah agar pak Lah tidak terpilih lagi sebagai president UMNO dan otomatis tidak akan bisa lanjut menjadi PM Malaysia untuk term berikutnya.

Kesalahan pak Lah adalah membebaskan Anwar Ibrahim dari penjara dan ini menjadi momentum emas bagi Anwar untuk melakukan konsolidasi politiknya di kalangan partai partai oposisi. Hasilnya efektif menurunkan perolehan suara UMNO dengan BN-nya dalam Pemilu. Ini yang membuat marah Mahathir dan bereaksi keras dengan tidak lagi memberikan endorsement politik kepada pak Lah untuk memimpin UMNO term berikutnya.

Keluarga besar UMNO tentu saja mendengarkan saran Mahathir karena memang menyangkut hajat politik kolektif UMNO. Tidak ada alasan bagi Pak Lah untuk melakukan perlawanan terhadap seniornya, Mahathir, dan kepada kehendak partai sehingga tidak ada gejolak. Kalaupun ada, perlawanan pak Lah tidak akan berarti apa-apa dan lagi pula Mahathir masih didengar dihornati di UMNO.

Najib sangat berbeda. Dia melakukan perlawanan keras kepada Mahathir saat dia (1) dinilai gagal memperkuat dan memperbesar UMNO sebagaimana terlihat dari kemerosotan hasil pemilu berikutnya, (2) diserang dengan tuduhan mega koruptif  (3) dituntut untuk mundur dari PM melalui demo besar di mana Mahathir menjadi aktor penting dan paling vokal. (4) ditekan secara terus menerus melalui berbagai kesempatan dan media terutama oleh Mahathir. Momen yang membuat Najib hawatir adalah terjadinya aliansi Mahathir-Anwar untuk melakukan konsolidasi kekuatan oposisi yang nampak terasa makin efektif untuk meruntuhkan Najib,  UMNO dan BN meskipun tanpa PAS karena PAS telah keluar dari aliansi oposisi.

Langkah-langkah Najib


Situasi memang semakin panas karena masing-masing tidak ingin kehilangan momentumnya,  apapun yang dihadapi. Dan Najib melakukan langkah-langkah yang diharapkan bisa mempertahankan posisinya dan menyelamatkan UMNO. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan di atas ialah cleansing steps UMNO supaya steril. Wakil Perdana Menteri dipecat dan diikuti sejumlah tokoh UMNO karena ikut melakukan kritik terhadap Najib. Langkah ini sebetulnya beresiko karena menciptakan musuh-musuh baru yang justru mengancam dan memperlemah UMNO. Akan tetapi memang tidak ada cara lain kecuali memecat siapa saja yang melakukan pembelotan.

Loyalitas politik harus dibuktikan secara nyata sehingga partai benar-benar sehat terbebas dari kanker politik. Untuk membayar ongkos pembersihan ini, maka Najib berupaya juga untuk memecah kekuatan oposisi. Langkah yang diambil ialah memikat PAS dengan menerima Hudud, salah satu tuntutan perjuangan PAS. Penerimaan ide Hudud ini memang menuai kritik dari UMNO dan partai Cina (MCA) karena  UMNO dianggap mulai condong kepada negara Islam.

Hal ini dibantah bahkan oleh pihak PAS yang menegaskan bahwa Hudud ini bukan soal Islam dan umat Islam akan terapi soal kita semua,  soal kemanusiaan, soal Malaysia. Hudud bukan ide yang eksklusif dan perlu ditakuti karena memperjuangkan keadilan, kemaslahatan dan kemajuan Malaysia.

Bantahan yang diberikan PAS ini sebetulnya tidak saja ditujukan kepada UMNO akan terapi kepada siapa saja termasuk para mitra politiknya di kekuatan oposisi. Ide Hudud ini sudah lama muncul sebetulnya dan tentu saja ini adalah merupakan bagian dari political game PAS memanfaatkan setiap momen politik yang ada untuk memperoleh political advantages. Jadi, yang akan mengambil keuntungan aliansi Baru UMNO PAS tentu saja dua partai ini dan, sebaliknya, oposisi terkena pukulan meskipun memperoleh suntikan dari partai baru yang digerakkan oleh Mahathir. Najib agak sedikit bisa bernafas panjang dengan memecah oposisi ini.

Isu korupsi yang secara terus menerus dihembuskan Mahathir sangat merepotkan posisi Najib, apalagi Amerika juga nampak berhasrat untuk melakukan investigasi. Hubungan Malaysia-Amerika selama ini memang dingin apalagi dulu Mahathir terkenal sangat vokal terhadap Amerika. Era Donald Trumph cenderung mengalami perubahan.

Undangan Trumph kepada Najib untuk melawat ke Amerika disambut dengan semangat oleh Najib. Banyak hal yang dibicarakan antara lain soal kerjasama  dua Negara dan tentunya ini akan dimanfaatkan oleh Najib untuk klarifikasi soal korupsi. Ini alah sinyal baik bagi Najib untuk menangkis isu korupsi lewat tangan Amerika. Sebaliknya, Trumph tentu saja sangat berkepentingan dengan Asia Tenggara di saat di Amerika sendiri Trumph sedang ditentang banyak kalangan. Berhasilkah Najib mengeliminasi kekuatan oposisi melalui tangan Amerika? Penulis ragu karena Trumph sendiri sedang mengalami kemerosotan.[***]
 


Sudarnoto A Hakim
Pakar Politik Malaysia

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

, 21 SEPTEMBER 2017 , 21:00:00

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

, 21 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

, 20 SEPTEMBER 2017 , 14:10:00

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

, 20 SEPTEMBER 2017 , 05:05:00

Bijak Menggunakan Internet

Bijak Menggunakan Internet

, 20 SEPTEMBER 2017 , 15:23:00

Misbakhun Aktor Di Balik Penggembosan KPK dan Setya Novanto
Jokowi Harus Panggil Gatot Soal Penayangan Film G30S/PKI
TV Mana Yang Nekat Siarin Film <i>G30S/PKI </i>

TV Mana Yang Nekat Siarin Film G30S/PKI

Politik20 September 2017 09:37

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Olahraga20 September 2017 08:45

Kopassus Gelar Nobar G30S/PKI, Masyarakat Cijantung Antusias