Rita Widyasari

Jokowi Tak Tinggal Diam

Kasus Rohingya

Dunia  SENIN, 04 SEPTEMBER 2017 , 08:25:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jokowi Tak Tinggal Diam

Presiden Jokowi/Net

RMOL. Presiden Jokowi akhirnya buka suara soal kasus Rohingya. Presiden menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam dengan mengirim Menlu Retno Marsudi ke Myanmar. Tujuannya, selain mencari penyelesaian kasus ini, juga sekalian membawa obat-obatan.
Kepergian Menlu Retno ke Myanmar untuk bertemu Aung San Suu Kyi. Meski bukan Presiden dan tak punya kontrol atas militer, Suu Kyi bukan orang sembarangan di Myanmar. Ia adalah orang berkuasa di Myanmar saat ini. Seorang pemimpin partai mayoritas dengan jabatan setingkat perdana menteri: Penasihat Pemerintah. Kekuasaan Suu Kyi sangat nyata. Ia merangkap empat jabatan kementerian sekaligus yaitu, menteri luar negeri, menteri kerumahtanggaan presiden, menteri pendidikan dan menteri energi.

Sayang, sampai saat ini Suu Kyi selalu menghindar ketika ditanya soal Rohingya. Lebih parah lagi, tak satu pun kutukan atau kecaman keluar dari mulut Suu Kyi. Padahal dunia internasional begitu menyesalkan aksi kekerasah terhadap warga Rohingya ini. Protes dan kecaman datang dari mana-mana. Dunia menyesalkan krisis Rohingya makin meningkat justru bukan terjadi di bawah kepemimpinan Junta Militer, tapi saat di bawah pemerintahan Suu Kyi, seorang penerima nobel perdamaian.

Kemarin sore, Menlu Retno terbang dari Jakarta ke Rangon, Myanmar. Sebelum berangkat, Retno meminta doa, berharap agenda pertemuannya dengan Suu Kyi membawa hasil. Soalnya, kata dia, perjalanan ke Myanmar tersebut tak hanya membawa amanah dari rakyat Indonesia tapi juga harapan dunia internasional. "Agar krisis kemanusiaan ini dapat segera diselesaikan," kata Retno.

Retno mengungkapkan, sebelum berkunjung ke Myanmar ia lebih dulu menghadap ke Presiden Jokowi. Menurutnya, Presiden sangat mendukung berbagai upaya untuk menciptakan kedamaian di Myanmar. Retno pun mengaku sudah berkomunikasi dengan sejumlah pihak dengan sejumlah pihak seperti Menteri Luar Negeri Bangladesh dan Advisory Commission on Rakhine State Kofi Annan. Dengan Menlu Bangladesh, Retno mendorong agar Bangladesh ikut serta membantu penanganan pengungsi Rohingya.

Tadi malam, Jokowi pun menyampaikan pernyataan terkait aksi kekerasan di Rakhine. Jokowi tampil dalam stelan jas berwarna biru didampingi Menkopolhukam Wiranto dan Mensesneg Pratikno. Ada 9 poin yang disampaikan, Pertama, Jokowi menyesalkan aksi kekerasan yang terjadi di Rakhine. Dia bilang perlu sebuah aksi nyata bukan hanya pernyataan kecaman-kecaman. Dan pemerintah berkomitmen terus membantu mengatasi krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia dan juga masyarakat internasional.

Jokowi menyampaikan telah menugaskan Menlu Retno untuk menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak termasuk Sekejen PBB Bapak Antonio Guterres dan Komisi Penasihat Khusus Untuk Rakhine State, Kofi Annan. Dia bilang, Menteri Retno sudah berangkat ke Myanmar, untuk meminta pemerintah Myanmar agar menghentikan dan mencegah kekerasan, agar memberikan perlindungan kepada semua warga termasuk muslim di Myanmar, dan agar memberikan akses bantuan kemanusiaan. "Untuk penanganan kemanusiaan aspek konflik ini, pemerintah telah mengirim bantuan makanan dan obat-obatan. Ini di bulan Januari dan Februari sebanyak 10 kontainer," kata Jokowi.

Jokowi pun menyampaikan telah membangun sekolah di Rakhine dan juga segera akan membangun rumah sakit pada Oktober mendatang. Menurut Jokowi, Indonesia juga telah menampung pengungsi dan memberikan bantuan yang terbaik. Ia juga mengaku telah menugaskan Menteri Retno untuk terbang ke Dhaka, di Bangladesh, dalam rangka menyiapkan bantuan kemanusiaan yang diperlukan pengungsi-pengungsi yang berada di Bangladesh. "Kita harapkan minggu ini kita akan mengirim lagi bantuan makanan dan obat-obatan," ucapnya. "Sekali lagi, kekerasan, krisis kemanusiaan ini harus segera dihentikan," tuntasnya.

Sekadar tahu saja, konflik Rohingya semakin memburuk dalam sepekan terakhir setelah tentara militer Myanmar dan sekutunya melakukan aksi balasan dengan membakar dan menghancurkan tempat tinggal mereka di Provinsi Rakhine, Myanmar. Aksi balasan yang dimaksud berawal dari serangan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) di bagian barat Rakhine pada 25 Agustus 2017 yang menewaskan 12 anggota pasukan keamanan Myanmar, dan sedikitnya 59 orang dari kelompok yang diklaim sebagai ekstremis Rohingya. Namun, tak ada yang menduga aksi balasan militer Myanmar akan sebesar ini. Bukan hanya serangan darat, sejumlah helikopter diterjunkan untuk menghujani segenap penjuru Rakhine dengan tembakan. Warga Rohingya yang sampai ke Bangladesh menyebut, aksi balasan militer itu disertai dengan aksi pengusiran dengan membakar rumah.

Human Right Watch (HRW) mencatat sedikitnya ada 17 titik api yang terpantau dari satelit, termasuk sebuah desa dengan 700 bangunannya habis dilalap api. Reuters melaporkan sedikitnya 2.600 rumah telah habis terbakar. Sejumlah media internaional yang mengutip pernyataan militer Myanmar menyebut 400 orang telah tewas dalam sepekan belakangan.

Sekjen Majelis Dzikir Hubbul Wathon Hery Haryanto Azumi berharap Indonesia menjadi negara yang paling depan dalam menyelesaikan krisis Rohingya. Menurut dia, krisis di kawasan Rakhine, jangan dilihat sebatas konflik agama, tetapi sudah menjadi krisis kemanusiaan.

Menurut Hery masalah utama Myanmar adalah kurangnya percaya diri negara tersebut menjadi negara yang terbuka dan toleran setelah lama di dikuasai junta militer. Untuk itu, transisi Myanmar untuk menjadi negara terbuka harus mendapatkan dukungan dari negara-negara ASEAN.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komaruddin mengatakan Presiden Jokowi mesti turun langsung dan berperan dalam mengatasi pembantaian warga muslim di Rakhine. "Ini saatnya Presiden peduli terhadap nasib umat Islam yang tertindas, teraniaya, dan terbunuh di Myanmar," kata Ujang dalam keterangan yang diterima redaksi, kemarin.  ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

, 21 SEPTEMBER 2017 , 21:00:00

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

, 21 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

, 20 SEPTEMBER 2017 , 14:10:00

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

, 20 SEPTEMBER 2017 , 05:05:00

Bijak Menggunakan Internet

Bijak Menggunakan Internet

, 20 SEPTEMBER 2017 , 15:23:00

Misbakhun Aktor Di Balik Penggembosan KPK dan Setya Novanto
Jokowi Harus Panggil Gatot Soal Penayangan Film G30S/PKI
TV Mana Yang Nekat Siarin Film <i>G30S/PKI </i>

TV Mana Yang Nekat Siarin Film G30S/PKI

Politik20 September 2017 09:37

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Olahraga20 September 2017 08:45

Kopassus Gelar Nobar G30S/PKI, Masyarakat Cijantung Antusias