Rita Widyasari

SEPEKAN BERKELILING NEGERI SAKURA (8)

Hakodate Surganya Ski, Seafood & Hot Springs

Dunia  RABU, 06 SEPTEMBER 2017 , 10:25:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Hakodate Surganya Ski, Seafood & Hot Springs

Pelabuhan Hakodate, Jepang/RM

RMOL. Tak sekadar indah, kaya dan modern, Jepang adalah negara yang terkenal dengan budaya kerja keras dan disiplin. Wartawan Rakyat Merdeka Kartika Sari yang diundang Kementerian Luar Negeri (Ministry of Foreign Affairs/MOFA) Jepang, berkeliling Negeri Sakura selama satu pekan. Selain mewawancarai politisi senior dari partai berkuasa, Liberal Democratic Party (LDP), Rakyat Merdeka juga bertemu masyarakat lokal serta singgah ke beberapa tempat pariwisata di Tokyo dan Hakodate. Berikut ini laporannya.
Kota Hakodate di Prefektur Hokkaido, kini menjadi salah satu tujuan favorit turis di Negeri Sakura. Hakodate memang belum setenar Tokyo, Osaka, Nara, Kyoto atau tujuan wisata mainstream lainnya di Jepang. Namun, saya memilih Hakodate
karena menurut beberapa teman yang pernah ke sana, kota ini memiliki pemandangan yang indah dan udara sejuk.

Hakodate adalah kota terbesar ketiga di Prefektur Hokkaido yang dikelilingi pegunungan dan laut. Ibukota Hokkaido adalah Sapporo. Hakodate sangat terkenal dengan seafood-nya yang fresh, pelabuhannya yang keren dan wisata pemandian air panas (hot springs)-nya dari air pegunungan murni yang menyegarkan.

“Bagi para penggemar masakan Jepang seperti sushi, sashimi atau seafood lovers,
jangan lupa berkunjung ke Hakodate,” kata Ken Satoh, Senior Staff dari kantor Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Hakodate saat ditemui di kantornya, Rabu (23/8). Sato yang didampingi rekannya Kazuhiro Tsuchida mengatakan, winter (musim dingin) dan autumn (musim gugur) adalah musim favorit para turis untuk datang ke Hakodate.

“Antara bulan Oktober hingga Maret adalah peak season. Mungkin karena cuacanya sangat bagus, udaranya sejuk dan pemandangannya sangat indah,” kata Tsuchida.

Sato menambahkan, Hakodate dan beberapa lokasi lainnya di Prefektur Hokkaido, juga menjadi tempat favorit para turis mancanegara untuk bermain ski pada saat winter. Saljunya sangat tebal dan indah saat winter. Nah pada musim dingin tiba, banyak monyet yang kedinginan turun dari pegunungan atau hutan untuk ikut berendam di hot springs bersama para turis. Dari foto-foto yang saya lihat di internet, monyet-monyet itu tampak sangat lucu dan menggemaskan saat mandi di hot springs.

Selain itu, imbuh Sato, di Hakodate juga terdapat beberapa situs peninggalan
sejarah yang menjadi salah satu tujuan para turis. Antara lain bekas gereja serta kantor Magistrate Hakim dan Polisi.

Daya tarik Hakodate lainnya, lanjut Sato, adalah harga makanan, hotel dan souvenir, jauh lebih murah dibandingkan Tokyo, Osaka atau Nara. “Sebagai pusat tujuan turis yang sedang berkembang di Jepang, jumlah hotel di Hakodate lebih banyak daripada penduduknya. Tarif hotel di sini juga murah lho,” promosi Sato.

Dia menjelaskan, turis asing yang ke Hakodate yang terbanyak dari Taiwan, China, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia dan Thailand. Sedangkan turis Eropa antara lain dari Rusia, Jerman dan Inggris. Ada juga turis dari Amerika Serikat.

Pusat Lelang Ikan

Sebagai penggemar ikan dan seafood, saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan
untuk berkunjung ke pasar lelang ikan di Hakodate. Untuk bisa menyaksikan langsung proses pelelangan ikan, saya mesti bangun pagi-pagi sekali. Sebab, lelang ikan dimulai pukul 6 pagi.

Ditemani Aiko Sugita, penerjemah yang selalu setia mendampingi selama blusukan di Jepang, pukul 5:45 pagi saya meluncur ke pusat pelelangan ikan dari hotel di mana saya menginap. Tiba pukul 6:00, kami disambut Fujita Kiyohiro, petugas dari kantor Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Pemerintah Kota Hakodate.

“Selamat datang di pusat pelelangan dan pasar ikan Hakodate. Nama saya Fujita Kiyohiro,” katanya ramah saat memperkenalkan diri sambil menyalami saya.

Selanjutnya Fujita mengajak kami berkeliling. Pusat pelelangan ikan yang saya kunjungi, persis terletak di bibir laut. Kapal ikan besar yang baru saja bersandar, tampak berjejer. Sejumlah pegawai mengendarai fork-lift, tampak sibuk hilir mudik mengangkat ikan yang baru dibongkar dari atas kapal.

Suasana di pusat pelelangan ikan pagi itu sangat ramai. Suara para pegawai saat
melelang ikan kepada calon pembeli, terdengar nyaring. Hampir semua jenis ikan dan seafoods segar yang baru saja ditangkap, ada di pusat pelelangan ikan tersebut. Ada ikan salmon, tuna, cumicumi, udang dan lainnya.

“Mereka yang datang untuk membeli ikan di sini kebanyakan pengelola hotel, cafe dan restoran,” kata Fujita.

Fujita menjelaskan, ada beberapa pekerja dari Indonesia di kapal penangkap ikan. Mereka bergabung dengan kru kapal Jepang saat berlayar mencari ikan.

“Mereka baru kembali kalau kapalnyasudah penuh dengan muatan ikan hasil tangkapan. Hakodate terkenal sebagai penghasil cumi-cumi terbesar di Jepang.
Para pekerja dari Indonesia, dikenal sangat ahli menangkap cumi-cumi. Mereka
juga pekerja keras dan sangat ramah,” jelasnya.

Kebetulan, empat pemuda dari Indonesia yang bekerja sebagai kru kapal penangkap ikan, pagi itu berjalan melintas di depan saya. Saya lalu minta izin kepada Fujita untuk menyapa mereka. Keempat pemuda itu masih berusia muda. Mereka adalah Darus Rahman asal Kendal, Jawa Tengah (22 tahun), Risqon Arif Hidayat asal Tegal, Jawa Tengah (19 tahun), Sandi Rozak asal Lamongan, Jawa Timur (21 tahun) dan Dedi Setiawan asal Riau (22 tahun).

Darus dan Risqon mengaku sudah bekerja di Jepang selama dua tahun. Sedangkan Sandi sudah bekerja satu tahun dan Dedi baru bergabung enam bulan lalu.

“Kami senang dan betah bekerja di kapal penangkap ikan di Jepang. Lumayan kami bisa mencari pengalaman sekaligus mencari uang,” kata Darus.

Sandi mengatakan, sekali berlayar, kapal besar penangkap ikan tempatnya bekerja membawa 10 kru. Empat orang dari Indonesia, empat orang dari Jepang, satu orang nahkoda dan satu bagian teknisi kapal.

“Biasanya kami berlayar selama tiga bulan di laut sekitar Jepang. Hasil tangkapan terbanyak adalah cumi-cumi. Kapal kami baru saja berlabuh dan siap bongkar muatan,” imbuh Dedi.

Apakah mereka betah bekerja di Jepang? Dengan serempak keempatnya
menjawab,”Iya dong kami betah dan enjoy kerja di Jepang.” Habis
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Trump Tak Dipercaya Rakyat

Trump Tak Dipercaya Rakyat

SELASA, 26 SEPTEMBER 2017

Berkuasa Lagi, Merkel Ditantang Partai Anti-Euro
Angela Merkel Kembali Jadi Kanselir Jerman
Korut Kena Batunya

Korut Kena Batunya

SENIN, 25 SEPTEMBER 2017

Pemilu Jerman, Angela Merkel Hanya Suguhkan Sedikit Kejutan
Australia Alokasi 400 Miliar Dolar AS Untuk Badan Antariksa Nasional
Panglima TNI Dinilai Tidak Tahu Prosedur

Panglima TNI Dinilai Tidak Tahu Prosedur

, 25 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Info Panglima TNI Tidak Akurat, So What?

Info Panglima TNI Tidak Akurat, So What?

, 25 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Kontes Domba Berhias

Kontes Domba Berhias

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:46:00

Kang Emil Di Gunung Padang

Kang Emil Di Gunung Padang

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:04:00