Rita Widyasari

1MDB Hanya Rekayasa Oposisi Untuk Gulingkan PM Najib Razak

Dunia  SENIN, 11 SEPTEMBER 2017 , 09:06:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

1MDB Hanya Rekayasa Oposisi Untuk Gulingkan PM Najib Razak

Budiman Mohd Zohdi/Net

Wawancara Eksklusif Anggota Parlemen Malaysia Daerah Pemilihan Sungai Besar, Budiman Mohd Zohdi
RMOL. Sebagai tetangga, hubungan Indonesia dan Malaysia mengalami pasang surut. Namun, ada kalanya di sisi hubungan antar pemerintah masalah telah dianggap selesai, tapi di sisi masyarakat masih heboh dibahas. Kadang kala apa yang dimaksud negara tetangga ditanggapi sebaliknya, sehingga memicu ketegangan bagi kedua negara.

 Budiman mencontohkan, saat kasus gambar bendera Indone­sia yang terbalik dalam SEA Games ke-29 di Kuala Lumpur. "Saat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Kerajaan Malaysia, Khairy Jamaluddin, meminta maaf dengan langsung merespons Tweet Menpora Re­publik Indonesia, Imam Nah­rawi, dan Presiden Joko Widodo mengatakan kasus ini tidak usah dibesar-besarkan maka di level pemerintah masalah sudah sele­sai, tapi di masyarakat ternyata belum, yang diwarnai adanya unjuk rasa di depan Kedubes Malaysia di Jakarta," katanya.

Menurut Budiman, inilah pentingnya pendekatan dalam penyelesaian isu tidak hanya di level pemerintah, tapi penting juga melakukan people to people approach atau pendekatan antar masyarakat. Untuk itulah, Budi­man dan kawan-kawan datang ke Jakarta. Selain meluncurkan buku Perdana Menteri Najib Razak Wasatiyyah: Idea dan Realita, dalam Indonesia In­ternasional Book Fair (2017), 6-10 September, mereka juga meluncurkan Lembaga Swadaya Masyarakat Nusasentris.

Di tengah kesibukannya ini, Budiman menerima wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rus­madi, Mellani Eka Mahayana dan fotogarafer Putu Wahyu Rama di Hotel Sultan, Jumat (8/9). Dalam perkenalan yang ramah, dia me­nyebutkan asal usulnya dalam ba­hasa Jawa. "Mbah ku wong Jowo, bapak mertuaku orang Sumatera, Mandailing," katanya membuka percakapan sambil tersenyum ramah. Dia juga bercerita soal isu perusahaan plat merah 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang menyeret nama PM Najib hingga pemilu 2018 yang belum diketahui jadwalnya.

Apa tujuan kedatangan Anda ke Jakarta?
Kami datang untuk meluncur­kan buku Datuk Seri Najib Tun Abdul Razak Wasatiyyah: Idea dan Realita, dalam Indonesia Internasional Book Fair (2017). Buku itu menggalakkan kon­sep kesederhanaan yang dapat mengeratkan hubungan antara kedua negara. Buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia.

Pada kesempatan itu, kami juga meluncurkan Lembaga Swadaya Masyarakat Nusa­sentris yang juga dapat tambah mengeratkan lagi hubungan kedua negara. Sebab, dalam LSM yang digagas dari Sinergy For Indonesia dan Malaysia (Yayasan Harapan Budi), mereka menawarkan penyelesaikan isu dengan pendekatan hubungan antar masyarakat. Peluncuran Nusasentris juga dihadiri Tim­balan Menteri Luar Negeri Ma­laysia Dato’ Seri Reezal Merican Bin Naina Merican.

Diharapkan dengan adanya LSM ini, dapat mengeratkan hubungan para pemuda dari kedua negara, isu-isu dapat mendekat­kan hubungan kedua negara yang ada bisa diselesaikan dan bila ada yang perlu diluruskan. Kedua negara harus bersatu dan tidak perlu adanya sentimen.

Contohnya saat bendera Indo­nesia terbalik di SEA Games di Malaysia. Malaysia sudah minta maaf, namun dari masyarakat kita yang saling provokasi satu sama lain. Tidak terbayang bagi saya jika berkonflik dengan kampung mbah saya dan kampung mertua saya. Mbah ku wong Jowo (kakek saya orang Jawa) dan bapak mertua ku orang Sumatera, Mandailing.

Sengketa kedua negara juga dipicu masalah perbatasan. Kedua pemerintah telah melakukan perundingan untuk menyelesaikan sengketa per­batasan pada Komisi Bersama untuk Kerja sama Bilateral (Joint Commission for Bilateral Cooperation/JCBC) ke-15. Ba­gaimana keseriusan Malaysia menyelesaikan kasus ini?

Tentulah serius. Isu perbatasan bukan hal yang mudah diputus­kan, apalagi kalau yang di laut lebih sulit daripada di darat. Per­nah ada dua nelayan Malaysia ditangkap di perairan Indonesia, tapi mereka menganggap itu adalah wilayah Malaysia.

Kedua negara juga kerap bersitegang akibat kasus penyiksaan TKI di rumah tangga. Duta Besar Indonesia di Malaysia Rusdi Kirana mewacanakan moratorium pengiriman TKI ke Malaysia. Bagaimana menurut Anda?
Penyiksaan TKI itu adalah dilihat per kasus ya, dan sesuai hukum Malaysia, majikan yang melakukan kejahatan ditindak. Saya ingat kasus Nirmala Bonat masuk ke pengadilan, majikan­nya dihukum. Saya melihat hu­kum di Malaysia juga berjalan.

Terkait adanya wacana mora­torium, saya melihat Malaysia itu masih butuh tenaga kerja dari Indonesia, sedangkan tenaga ker­ja Indonesia juga membutuhkan sumber penghasilan. Di Indone­sia banyak juga orang Indonesia yang mengambil program per­manent residence dan mereka punya kehidupan yang bagus dan sukses, mereka juga butuh bantuan TKI rumah tangga.

Jika soal kebijakan hendaknya kedua kementerian yang terkait membicarakannya. Dan jika suatu kebijakan diputuskan, perlu dipikirkan banyak pihak yang akan terdampak.

Positifnya banyak yang peduli terhadap masalah ini, ditam­bah lagi dengan LSM untuk perlindungan TKI yang terus memperjuangkan hak-hak TKI. Mungkin inilah yang perlu dicari win win solution.

Bagaimana penelian Anda soal isu 1MDB?
Isu 1MDB hanyalah rekasaya pihak oposisi di Malaysia untuk menggulingkan Datuk Sri Najib dengan tidak terhormat. Isu ini disebut-sebut pertama kali digu­lirkan Tun Mahathir (Mohamad) yang kemudian disambut dan digunakan oposisi. Pihak oposisi menudah ada 42 miliar ringgit yang hilang tapi sudah dibantah oleh keadilan di Malaysia. Maknanya kasus ini hanya rekayasa.

Artinya ini terbantah di pen­gadilan?
Ramai yang menuduh Pak Najib mau menyembunyikan. Kasus ini sudah perkara ini diba­has di kabinet. Tapi Pak Najib ingin juga membahasnya di par­lemen, sehingga dibentuk Public Accounts Committee, mirip pan­sus di Indonesia. Anggotanya terdiri dari anggota parlemen dari oposisi dan pemerintah. Mereka menyatakan tidak ada duit negara yang hilang, dan Datuk Sri Najib tidak terlibat.

Cuma isu itu terus dan terus diangkat oposisi yang ditokohi Anwar Ibrahim dan Najib Razak, untuk menggulingkan Pak Na­jib. Seperti yang dikatakan ahli propaganda Nazi Jerman Jo­seph Goebbels, bahwa kebohongan yang diulang-ulang akan (dianggap) menjadi kebenaran.

Oposisi saat ini ada dua pembesar, bekas wakil PM Anwar Ibrahim dan bekas PM Mahathir Mohamad yang dulu juga bersitegang tapi mereka bisa bersatu. Itu bagaimana?
Mereka punya musuh bersama yaitu Pak Najib. Pak Anwar dan Mahathir berkoalisi dalam Pakatan Harapan. Masalahnya kepemimpinan di oposisi tidak jelas. Pak Anwar kerap memberi arahan dari penjara. Ada juga arahan-arah dari Tun Mahathir. Ada juga arahan-arahan dari Wan Azizah istri dari bapak Anwar dan ada juga dari Partai Tiong­hoa. Jadi kita tidak tahu dan tidak melihat pemimpin yang jelas.

Bagaimana popularitas par­tai penguasa (Barisan Na­sional) setelah 1MDB?

Kami yakin bakal menang karena dari pemilihan sela di Serawak saat kasus 1MDB sedang gencar dibahas media, kami menang besar. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
50%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
50%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

, 21 SEPTEMBER 2017 , 21:00:00

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

Konten Mahal, Operator TV Kabel Menjerit

, 21 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

Unpad-RMOL dalam Kerangka Pentahelix

, 20 SEPTEMBER 2017 , 14:10:00

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

Apresiasi Keterbukaan Informasi Bank DKI

, 20 SEPTEMBER 2017 , 05:05:00

Bijak Menggunakan Internet

Bijak Menggunakan Internet

, 20 SEPTEMBER 2017 , 15:23:00

Misbakhun Aktor Di Balik Penggembosan KPK dan Setya Novanto
Jokowi Harus Panggil Gatot Soal Penayangan Film G30S/PKI
TV Mana Yang Nekat Siarin Film <i>G30S/PKI </i>

TV Mana Yang Nekat Siarin Film G30S/PKI

Politik20 September 2017 09:37

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Indonesia Siap Saingi Finlandia

Olahraga20 September 2017 08:45

Kopassus Gelar Nobar G30S/PKI, Masyarakat Cijantung Antusias