Hanura

PM Inggris Putuskan Serang Suriah Tanpa Persetujuan Parlemen

 MINGGU, 15 APRIL 2018 , 05:14:00 WIB | LAPORAN: SAMRUT LELLOLSIMA

PM Inggris Putuskan Serang Suriah Tanpa Persetujuan Parlemen

Theresa May/Net

RMOL. Konvensi tidak mengikat yang diberlakukan sejak 2003 dilanggar Perdana Menteri Inggris Theresa May. Dia tetap meluncurkan serangan ke arah Suriah tanpa persetujuan parlemen.
Keputusan tersebut, sebagaimana diberitakan Reuters, diambil May lantaran aksi militer Inggris sesuai dengan kepentingan nasional.

Inggris dan dunia Barat, kata dia, memiliki kewajiban untuk menghalangi Assad dan pemerintah lainnya menggunakan senjata kimia, seperti yang terjadi Sabtu pekan lalu di Douma yang menewaskan 75 orang.

"Sementara aksi ini memang secara khusus dilancarkan untuk menghalangi rezim Suriah, serangan juga akan jadi sinyal kepada pihak lain yang meyakini mereka punya kekebalan menggunakan senjata kimia," jelas May.

Dia tekankan, Inggris dan sekutunya telah menggunakan seluruh cara diplomatis untuk menghentikan penggunaan senjata kimia, tapi berulang kali mendapat hambatan.

"Jadi, tidak ada alternatif praktis lainnya ketimbang menggunakan kekuatan militer untuk menghalangi penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah," kata May.

Inggris menggunakan empat jet tempur Royal Air Force dari pangkalan militer di Siprus dan meluncurkan rudal Storm Shadow.

Menteri Pertahanan Inggris menyatakan pihaknya telah melakukan analisis ilmiah agar serangan itu bisa menghancurkan penyimpanan senjata kimia, tapi tetap meminimalisir efeknya pada area di sekitar penyimpanan.

"Fasilitas yang menjadi target serangan berjarak cukup jauh dari konsentrasi massa sipil yang diketahui, sehingga bisa lebih jauh lagi mengurangi risiko," begitu pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Inggris.

Banyak politisi di Inggris, termasuk dari Partai Konservatif, telah meminta anggota Parlemen dipanggil dari masa liburnya untuk memberikan persetujuan atas serangan militer.

"Sebagai perdana menteri, ini pertama kalinya saya harus mengambil keputusan untuk menempatkan pasukan bersenjata kami pada sebuah pertempuran -- dan ini bukan keputusan yang saya ambil dengan mudah," kata May.

Mantan PM Inggris, David Cameron, pernah kalah di dalam pemungutan suara di parlemen ketika akan mengambil keputusan menyerang Assad pada 2013 silam. Ketika itu 30 anggota dari Partai Konservatif menentang dan banyak penduduk Inggris meyakini bahwa terlibat dalam konflik tersebut tidak akan membawa stabilitas pada Timur Tengah.

Jajak pendapat daring yang diluncurkan YouGov pekan ini mengindikasikan hanya seperlima dari para pemilih yang meyakini Inggris harus meluncurkan serangan

Pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, yang juga dikenal memiliki sikap anti-perang, menyatakan Inggris seharusnya terus menekan PBB untuk menggelar penyelidikan independen ketimbang menunggu instruksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. [sam]

Komentar Pembaca
Nursyahbani Katjasungkana - Derita Rakyat Tergusur (Bag.4)
Nursyahbani Katjasungkana - LGBT (Bag.3)
RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00