Hanura

Perbandingan Kehadiran Din Syamsudin Dan Staquf Dalam Konferensi Israel

 SELASA, 12 JUNI 2018 , 15:13:00 WIB

Perbandingan Kehadiran Din Syamsudin Dan Staquf Dalam Konferensi Israel

Foto/Net

KEHADIRAN Din Syamsudin pada konferensi Israel di Hungaria, 2013, tidak bisa dijadikan alasan untuk mentolerir kunjungan Yahya Cholil Staquf saat ini ke Israel. Siapapun yang berhubungan dengan Zionis Israel, tetap disebut sebagai pengkhianat bangsa karena bertentangan dengan mukadimah UUD 45 yang menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi ini.
Jika dipertanyakan mengapa saat itu Din tak mendapat reaksi sekeras saat ini seperti yang dialami Staquf. Jawabannya, beda momentum tentu beda reaksi. Apalagi kunjungan Din bukan di tanah pendudukan. Lebih dari itu, kunjungan Staquf tidak lama setelah ummat Islam sedunia termasuk di Indonesia memprotes pengakuan Yerusalem atau Baitul Maqdis sebagai ibukota Zionis Israel.

Momentum inilah yang membedakan reaksi keras ummat Islam pada Staquf dibanding pada kunjungan Din sebelumnya. Tapi ungkapan ini bukan berarti menolerir kunjungan Din ke konferensi   WJC (World Jewish Center) di Budapest saat itu.

Jadi ketika ada yang membandingkan antara kunjungan Staquf dengan Din, tentu Staquf lebih parah karena ia datang ke pusat kebiadaban di muka dunia ini, yaitu Tel Aviv. Meski demikian, kehadiran Din pada tahun 2013 juga tak dibenarkan.

Selain itu, saat ummat Islam berada pada puncak kemarahan karena Baitul Maqdis diaku sebagai ibukota Israel secara sepihak, Staquf yang juga berstatus ulama dan pejabat Wantimpres malah berkesan meledek ummat Islam dengan mengunjungi pusat kebiadaban dunia. Staquf seakan tak punya sensitifas pada bangsa Palestina, khususnya penduduk Gaza yang hari-hari terus mendapat serangan dari Israel.

Yang lebih mengecewakan,  Staquf mengklaim kehadiran dirinya di konferensi AJC, Tel Aviv, dalam rangka membela Palestina. Tapi pada kenyataanya dalam rekaman konferensi yang tersebut, Staquf sama sekali tak sebut satu pun nama Palestina dalam pembicaraannya. Bahkan tak ditemukan satu kalimat tegas yang menyikapi keras kebiadaban Zionis Israel yang secara terang-terangan menduduki wilayah Palestina.

Sudah menjadi rahasia umum, Tel Aviv sengaja memanggil para tokoh, khususnya dari kalangan ummat Islam untuk hadiri konferensi-konferensi dan berbagai acara di Israel dalam rangka mengakui eksistensi rezim biadab ini. Kehadiran tokoh diharapkan bisa membangun opini bahwa Israel juga diakui semua pihak.

Inilah yang disebut diplomasi perlawanan ala Israel. Yang ditonjolkan adalah diplomasi, tapi maksudnya adalah megakui eksistensi Israel dan membenarkan pendudukan atas Palestina.

Alhamdulilllah, hingga kini masih banyak ulama dan tokoh muslim yang konsisten menolak eksistensi Israel yang berdiri di atas penjajahan atas bangsa Palestina. Belum lama ini Imam Besar Habib Rizieq Shahab dalam pidato Aksi Bela Palestina untuk menolak Yerusalem sebagai ibukota Israel, menegaskan, Israel secara negara saja  tak dapat diterima, apalagi memindahkan ibukota. Dengan demikian menurut Habib Rizieq Shahab, tidak ada nama Israel atas nama negara di muka bumi ini.

Penulis: Alireza Alatas, pembela ulama dan NKRI/aktivis SILABNA -Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00