Hanura

Kemenangan Erdogan: Islamisme Vs Oposisi Yang Terbelah

 SENIN, 25 JUNI 2018 , 13:28:00 WIB

Kemenangan Erdogan: Islamisme Vs Oposisi Yang Terbelah

Foto/Dok

PEMILIHAN umum di Turki menjadi fenomena menarik dalam melihat perilaku pemilih.
Setelah hampir 15 tahun erada di bawah kontrol partai nasionalis-Islamis AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi, Partai Keadilan dan Pembangunan), Publik Turki kembali ke dalam kotak suara untuk memilih pemimpin tertinggi di negeri sufi tersebut.

Pemilu ini sekaligus merupakan pemilu kedua, sejak Turki merubah sistem pemerintahan dari elektoral menjadi presidensial sejak tahun 2017. Di bawah perubahan konstitusi yang dilaksanakan melalui referendum pada 2017, presiden terpilih berpotensi mengontrol kekuasaan absolute dengan peran ganda sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Kemenangan Erdogan Dan Manuver Politik AKP


Publik Turki kembali melaksanakan Pemilihan Umum Presiden pada 24 Juni 2018, bersamaan dengan Pemilihan Umum Parlemen. Sebelumnya, pemilu ini direncanakan pada November 2019.

Hasil awal Pemilu Turki  memperlihatkan posisi kemenangan Recep Tayyip Erdoğan, Presiden petahana yang telah berkuasa sejak 2002.

Kantor Berita Turki Anadolu Agency telah mengklaim kemenangan Erdoğan dengan perolehan, 55,56 persen dari 97 persen surat suara yang telah dihitung. Kemenangan ini telah dikonfirmasi Sadi Guven, ketua Komite Pemilu Turki tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Dengan demikian Erdoğan yang kembali memimpin suara jauh meninggalkan perolehan suara rival terkuatnya Muharrem Ince dari partai CHP (Cumhuriyet Halk Partisi)  yang hanya memperoleh sekitar 31 persen. Namun demikian kemenangan ini masih diliputi persoalan electoral fraud yang cukup signifikan.

Sebuah Badan independen Pemilu  Adil Secim Platformu ( Platform Pemilu yang Fair) merilis hasil penghitungan suara dengan selisih yang cukup besar jika dibandingkan dengan perhitungan yang diberikan oleh Anadolu Agency. Dalam perhitungan versi Adil Secim Platformu kemenangan  Erdogan hanya 43,51 persen dari 65 persen surat suara yang telah dihitung.

Apapun hasil akhirnya, nampaknya potensi kemenangan Erdoğan, tetap di atas angin. Keberhasilan Erdoğan, dalam mendulang suara kali ini tentu saja tidak terlepas dari maneuver-manuver politik Erdoğan dan AKP yang pragmatis.

AKP telah memulai dengan koalisi pra-pemilu bersama MHP (Milliyetçi Hareket Partisi), Partai Gerakan Nasionalis yang juga konservatif.  AKP nampaknya sengaja mengkondisikan koalisi AKP-MHP dengan menaikkan batas ambang elektoral (electoral threshold) menjadi 10 persen.

Situasi ini mendorong MHP yang merupakan faksi terkecil di Parlemen Turki untuk berkoalisi agar tetap bisa bertahan di Parlemen. Dalam pemilu Turki sejak tahun 1999, perolehan MHP berfluktuasi pada batas antara 18 persen dan 11 persen, dengan catatan penurunan mencapai 9,5 persen di Pemilu 2002.

MHP sendiri pernah menolak tawaran koalisi AKP pada pemilu 2015. Kenaikan ambang batas elektoral akhirnya menjadi faktor yang mendorong koalisi pra-pemilu  antara AKP-MHP.  Koalisi ini semakin memperkuat posisi Erdoğan, dengan dukungan MHP atas pencalonan Erdoğan  sebagai Presiden.

Maneuver lain yang dilakukan Erdoğan, adalah memajukan pelaksanaan Pemilu Presiden. Sebelumnya pemilu Presiden dijadwalkan pada tahun 2019.

Namun demikian, Erdoğan membuat keputusan dengan memajukan pelaksanaan Pemilu tersebut dengan dalih memperkuat pemerintahan Turki menghadapi pemberontak Kurdi di Irak dan Suriah.

Namun demikian,  sebagian analis menilai bahwa salah satu faktor penting yang mendorong keputusan Erdoğan untuk memajukan tanggal pelaksanaan Pemilu adalah tingkat pertumbuhan ekonomi Turki yang sedang mengalami pertumbuhan mencapai 7,4 persen di kuartal pertama 2018.

Hal ini menjadi ‘trademark’ yang sangat positif bagi pemerintahan Erdoğan setelah sebelumnya mengeluarkan pernyataan untuk mencapai target pertumbuhan di atas 5,5 persen di tahun 2018.

Pemilih Ideologis Versus Oposisi Yang Terbelah

Terpilihnya Erdoğan kembali menjadi Presiden Turki untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya memimpin sebagai Perdana Menteri berturut-turut selama dua periode, disusul dengan kemenangannya sebagai Presiden sejak 2014 menyisakan pertanyaan mengapa figur Erdoğan sangat kuat menarik simpati pemilih di Turki.

Keberhasilan Erdoğan memimpin Turki, tidak terlepas dari proses panjang kelompok Islamis di Turki yang tidak pernah berhenti memperjuangkan aspirasi politiknya sejak negara Modern Turki berdiri di tahun 1923.

Kemenangan Partai AKP di tahun 2002 menandakan meredupnya ideologi sekuler-modern yang diberlakukan sejak kepemimpinan Mustafa Kemal Attatruk, dan menguatnya kembali  ideologi Islamis di Turki.  

Kemenangan kelompok Islamis untuk pertama kali dalam sejarah modern Turki mulai dirasakan sejak Neccmetin Erbakan yang didukung oleh Refah Parti Partai Kesejahteraan yang berhaluan islamis berhasil menjadi Perdana  Menteri di tahun 1995.

Erbakan berhasil mengantongi 21 persen dan memecah koalisi nasionalis-sekuler. Namun demikian Erbakan mengundurkan diri di tahun 1997 setelah menantang kelompok sekuler pro-Barat dengan sejumlah kebijakannya yang ideologis, antara lain mendekatkan Turki dengan negara-negara Arab dan Muslim.

Namun demikian, akar-akar ideologis yang ditanam oleh Erbakan semakin menguat sejak Partai Refah memperoleh dukungan dan Millî Görüş, sebuah gerakan visi nasional yang mengadopsi idelogi extrim Islamis dengan menekankan oposisi terhadap negara-negara dan institusi-institusi Barat.

Gerakan ini mengadopsi keyakinan bahwa negara-negara Muslim akan lebih kuat jika mengedepankan kesamaan sejarah dan relijius.

Erbakan, Erdoğan dan Abdullah Gul adalah sejumlah pemimpim Turki yang aktif dalam gerakan Millî Görüş ini.  Kemenangan Erdoğan di tahun 2002 semakin memperlihatkan konsolidasi elit gerakan Islamis yang menemukan rumah ideologisnya dalam partai AKP.

Meskipun demikian, maneuver AKP yang pragmatis berkoalisi dengan pendukung gerakan Gulen dan kelompok Kurdi yang memperkuat perolehan elektoralnya di tahun 2002.  

Keberhasilan Erdoğan mengangkat tingkat pertumbuhan ekonomi Turki juga menjadi faktor penting yang menarik perhatian kelompok Islamis.

Dalam konteks ini, Anatolian Tigers kelompok pebisnis Muslim yang juga mengadopsi ideologi Millî Görüş banyak mendapat keuntungan dari kebijakan reformasi ekonomi yang dijalankan oleh pemerintahan Erdoğan.

Negara-negara seperti Libya, Mesir, Iraq dan Suriah dan sejumlah negara-negara Muslim di Asia Tengah mendapat prioritas penting dalam kebijakan  ekonomi Erdoğan, meskipun pasar Eropa masih menjadi backbone perdagangan Turki.

Pengaruh kelompok Islamis dalam kepemimpinan Erdoğan semakin terlihat dalam perseteruannya dengan Fethullah Gulen, tokoh karismatik berhaluan modernis yang sebelumnya mendukung pencalonan Erdoğan di tahun 2002.

Kritik Gulen atas kepemimpinan Erdoğan yang menurutnya semakin otoriter membuat koalisi AKP-Gulen juga tidak berlangsung lama. Sejak saat itu, stigmatisasi Gulen sebagai tokoh pro-Barat mewarnai  media-media mainstream Turki.

Maneuver-manuver kebijakan luar negeri Erdogan juga tidak luput dari perhatian kelompok Islamis. Sikap Erdogan yang dinilai ‘berani’ mengkritik Amerika sebagai aliansi internasionalnya sejak tahun 1945 membuat figure Erdogan semakin popular.

Walaupun masih menjaga aliansinya dengan Amerika dan NATO, Erdogan gigih memperjuangkan Hamas ke meja perundingan Palestina-Israel. Erdogan juga kerap menyebabkan Turki bersitegang dengan AS dan Israel terkait kebijakannya mengkritik Israel.

Figur Erdogan semakin popular sejak Arab Spring melanda Timur Tengah. Model demokrasi Turki yang menghadirkan elemen Islam digadang-gadang menjadi inspirasi bagi negara-negara di Timur Tengah yang mengalami transisi polotik, seperti Tunisia dan Mesir.

Namun demikian, Pinar Biigin, analis Turki dari Middle East Technical University di Ankara menilai bahwa keberpihakan Erdogan pada isu-isu keislaman tidak terlepas dari keinginan Turki, untuk kembali memperkuat pengaruh kulturalnya  (Civilizational Sphere of Influence) di wilayah yang dulu pernah berada di bawah kekuasaan Turki Usmani.

Di sisi lain, konsolidasi kelompok Islamis di Turki juga dibarengi dengan kelompok oposisi yang terpecah. Sebelumnya, MHP yang memiliki basis dukungan konservatif Muslim adalah partai netral yang kemudian memberikan dukungan atas pencalonan Erdoğan.

Partai Oposisi lain adalah CHP (Cumhuriyet Halk Partisi) partai modern berhaluan sosialis demokratis berkoalisi dengan Partai  İYİ (partai nasionalis yang baik ), yang berhaluan nasionalis liberal dan Saadet Partisi (Partai Islamis yang membahagiakan) untuk memperluas basis dukungan.

Akan tetapi, partai Halkların Demokratik Partisi, HDP, partai demokratis pro-Kurdi tidak bergabung dengan koalisi tersebut. isu yang dimainkan oleh oposisi juga masih seputar isu ekonomi, terutama yang terkait dengan turunnya nilai tukar mata uang Lira.

Namun demikian, kelompok oposisi nampaknya tidak memiliki rencana perbaikan ekonomi dan sektor-sektor lain yang lebih baik dari AKP.

Terpecahnya oposisi mungkin memberi keuntungan untuk mengikis suara petahana, tetapi sekaligus akan sulit mengalahkan re-koalisi yang dilakukan oleh AKP-MHP, apalagi di tengah absennya figure kuat pemersatu seperti Erdoğan.  yang masih kuat.

Eva Mushoffa
Penulis adalah staf pengajar HI Timur Tengah dan Afrika pada Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Komentar Pembaca
Jokowi Berupaya Mengunci Mitra Koalisi
Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

, 20 JULI 2018 , 13:00:00

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

, 17 JULI 2018 , 21:28:00

Dukung Potensi Gresik Berkembang

Dukung Potensi Gresik Berkembang

, 15 JULI 2018 , 05:16:00