Hanura

Teori-teori Di Balik Pembunuhan Kim Jong-Nam

 JUM'AT, 17 FEBRUARI 2017 , 22:55:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

Teori-teori Di Balik Pembunuhan Kim Jong-Nam

Kim Jong-Nam/Net

RMOL. Kim Jong Nam diberitakan meninggal dunia akibat penyerangan yang dilakukan dua wanita saat berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia pada Senin, 13 Februari. Kim Jong Nam adalah kakak tiri dari pemimpin tertinggi Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) Kim Jong-Un.
Ia digambarkan sebagai tokoh oposan yang melarikan diri dan hidup dalam pengasingan.

Apa yang sesungguhnya terjadi di balik masih menjadi teka-teki. Benarkah, Kim Jong Nam dibunuh oleh agen Korea Utara menggunakan tangan kedua wanita yang salah satunya adalah WNI?

Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Teguh Santosa, meragukan cerita kematian Kim Jong Nam seperti yang diberitakan secara luas akhir-akhir ini.

Teguh mencoba mendekati kasus kematian ini dari perspektif yang berbeda, berdasarkan pemahamannya mengenai situasi umum di Korea Utara dan Semenanjung Korea.

Teguh Santosa kerap mengunjungi Korea Utara juga Korea Selatan.

Menurutnya, ada tiga teori yang bisa digunakan untuk mendekati kasus ini. Pertama, pembunuhan biasa di kalangan mafia. Teori ini didasarkan pada profil Kim Jong Nam yang dalam berbagai pemberitaan media dalam dan luar negeri disebutkan gemar berpetualang dan sering menggunakan paspor palsu, gemar main perempuan, gemar berjudi, dan kerap membuat onar, juga memiliki usaha yang tidak jelas.

"Tingkat validitas teori ini kuat," katanya dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (17/2).

Teori kedua, disebut Teguh sebagai teori pembunuhan politik varian A. Menurut teori ini, seperti yang ramai diberitakan, pelaku pembunuhan Kim Jong Nam adalah pihak Korea Utara dengan menggunakan tangan orang lain. Pembunuhan dilakukan untuk menyingkirkan Kim Jong Nam yang digambarkan sebagai sandungan bagi Kim Jong Un.

"Tingkat validitas teori ini lemah. Kelemahan utamanya terletak pada pelibatan dua wanita non warga Korut sebagai eksekutor," kata Teguh.

Berdasarkan pemahamannya, pihak Korut tidak mudah mempercayai pihak lain, apalagi untuk operasi seperti ini.

Teori ketiga adalah teori pembunuhan politik varian B, dimana pembunuhan itu didalangi pihak-pihak lain di luar Korut. Atau secara sederhana disebut sebagai pihak-pihak yang ingin menyudutkan pemerintah Korut.

"Tingkat validitas teori ini sangat kuat. Ada kemungkinan kedua eksekutor adalah bagian dari operasi ini. Atau bisa juga, kasus ini diarahkan sehingga tampak seperti kasus pembunuhan politik yang dilakukan Korut," bebernya.

Menurutnya, lokasi kejadian di KLIA yang merupakan salah satu bandar udara paling sibuk di dunia juga memperkuat teori terakhir. Karena tujuannya adalah untuk blow up kasus.

Modus pembunuhan yang digambarkan dalam berbagai pemberitaan juga terlalu dramatis.

"Bagi Korea Utara, sejauh ini Kim Jong Nam dan his secret identity adalah fantasi lain yang dikembangkan musuh-musuh mereka," tegas Teguh yang juga dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pada bagian akhir keterangannya, Teguh menjelaskan bahwa teori-teori yang disampaikannya tidak didasarkan pada olah TKP.

"Saya tidak melihat TKP, tidak bertemu degan pihak-pihak yang layak disebut sebagai saksi. Teori-teori ini saya dasarkan pada pemahaman umum saya tentang situasi di Semenanjung Korea," demikian Teguh.

Menurut sejumlah pemberitaan, Kim Jong Nam tidak sadarkan diri setelah mendapat serangan dari dua wanita yang menyemprotkan cairan ke wajahnya. Dia meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Putrajaya dalam upaya pertolongan.

Kepolisian Malaysia telah menangkap dua wanita yang diduga terlibat penyerangan Kim Jong Nam. Salah satunya diketahui memiliki paspor Indonesia bernama Siti Aisyah asal Serang, Banten kelahiran 11 Februari 1992. Dia ditangkap pada Kamis (16/2) dini hari waktu setempat.

Sebelumnya, pada Rabu (15/2) pagi waktu setempat, seorang wanita juga ditangkap di KLIA saat akan terbang menuju Vietnam. Wanita itu kedapatan membawa paspor Vietnam dengan nama Doan Thi Huong kelahiran Nam Dinh pada Mei 1988. Tidak diketahui pasti keaslian dokumen tersebut.

Kepolisian juga telah menangkap seorang pria Malaysia yang disebut merupakan kekasih Siti Aisyah. Serta masih memburu sejumlah warga asing lain yang diduga terkait pembunuhan tersebut. [wah]

Komentar Pembaca
#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?
Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

, 19 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00