Hanura

Salahkan Waktu, Myanmar Tolak Kunjungan Dewan Keamanan PBB

 MINGGU, 04 FEBRUARI 2018 , 10:03:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Salahkan Waktu, Myanmar Tolak Kunjungan Dewan Keamanan PBB

Foto/Net

RMOL. Pemerintah Myanmar mengatakan kepada Dewan Keamanan (DK) PBB bahwa bulan ini bukan waktu yang tepat untuk kunjungan melihat secara langsung krisis pengungsi Rohingya.
 Duta Besar Kuwait Man­sour al-Otaibi, yang memegang kepresidenan Dewan Keamanan periode Februari mengatakan, otoritas Myanmar tidak menen­tang kunjungan. Mereka menganjurkan kunjungan bisa dilaku­kan pada Maret atau April.

"Mereka (Myanmar) hanya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung," kata Otaibi kepada para reporter di markas besar PBB, Amerika Serikat, Kamis waktu setempat.

DK PBB sudah meminta agar ratusan ribu muslim Rohingya yang terusir dari negara bagian Rakhine saat penindakan keras militer diperbolehkan pulang.

Otaibi mengatakan otoritas Myanmar berusaha mengatur kun­jungan bagi diplomat yang berbasis di sana, dan menekankan bahwa "ketegangan masih tinggi di negara bagian Rakhine saat ini."

Hampir 700.000 warga Ro­hingya sudah menyeberang ke Bangladesh dan tinggal di kamp-kamp pengungsian sejak Agus­tus menyusul penindakan yang disebut PBB setara dengan pem­bersihan etnis. Bulan lalu Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang menyeru Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menunjuk utusan khusus untuk Myanmar, namun penunjukan itu belum di­lakukan. China, pendukung bekas penguasa junta Myanmar, dan Rusia menolak resolusi itu.

Kuburan Massal


Lima kuburan massal yang berisi total ratusan jasad etnis Muslim Rohingya dilaporkan berada di sejumlah titik di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Demikian menurut hasil penelu­suran jurnalistik-investigatif kan­tor berita raksasa asal Amerika Serikat, Associated Press (AP).

Laporan itu merupakan hasil penelusuran AP yang mewawan­carai puluhan pengungsi Rohingya di Bangladesh. Sejumlah video yang kredibel juga turut menguatkan testimoni tersebut.

Seperti dilansir ABC Austra­lia kemarin, 5 kuburan massal itu berisi sedikitnya sekitar 75 hingga 400 jasad etnis Rohingya. Hampir dari setiap warga desa yang diwawancarai AP mengata­kan bahwa tiga dari lima kuburan massal itu berada di jalan raya gerbang masuk utara pedesaan Gu Dar Pyin, Rakhine. Sedang­kan dua sisanya berada di dekat pemakaman di lereng bukit Gu Dar Pyin. Sejumlah pengungsi juga mengatakan, ada sejumlah kuburan massal etnis Rohingya berskala kecil yang tersebar di beberapa titik di Gu Dar Pyin.

Media AP, yang mengutip testimoni para pengungsi Rohingya, menyebut bahwa pem­bantaian yang berujung pada terbentuknya kuburan massal itu telah direncanakan tentara Myanmar sejak 27 Agustus 2017 -- hari yang sama ketika konflik bersenjata antara militer dan milisi Arakan-Rohingya pecah.

Tak tanggung-tanggung, sejum­lah tentara yang menyerbu desa sipil Rohingya di Gu Dar Pyin di­lengkapi dengan sekop dan cairan asam. Sekop, tentu saja, digunakan untuk mengubur mayat. Semen­tara cairan asam itu dimanfaatkan untuk merusak jasad agar tak mudah dikenali dan diidentifikasi. Cairan asam itu biasanya diusap pada wajah jenazah.

"Saat itu, tentara berkekuatan 200 orang dan dibantu etnis sipil mayoritas menyerbu desa. Beberapa di antara kami berhasil melari­kan diri atau bersembunyi. Yang lainnya tewas ditembak di tempat," kata Mohammad Sha yang berhasil menyelamatkan diri dari peristiwa itu, dan kini berada di kamp pen­gungsi di Bangladesh.

"Mereka juga membakar per­mukiman dan menjarah barang-barang kami," tambah Sha.

Sementara itu, pengungsi lain bernama Mohammad Lalmia me­nyatakan bahwa kuburan massal mulai terbentuk beberapa hari usai serangan tersebut. Kuburan massal itu, jelas para pengungsi, ditujukan untuk menutupi jejak aksi para tentara.

"Mayat berserakan di mana-mana," kata Lalmia.

"Sebelas hari usai kejadian itu, saya dan beberapa penduduk lain yang sempat menengok kembali keadaan desa melihat ada sejum­lah gundukan tanah dengan tangan manusia yang mencuat dari bawahnya," tambah Lalmia.

Selain itu, penduduk desa lain­nya, yang bernama Mohammad Karim merekam tiga video yang menunjukkan eksistensi kuburan massal tersebut. Video itu turut di­verifikasi oleh puluhan pengungsi lain dari desa yang sama. Rekaman itu memiliki keterangan tanggal 9 September 2017 antara pukul pukul 10.12 dan 10.14. ***

Komentar Pembaca
Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

, 18 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Atraksi Kembang Api

Atraksi Kembang Api

, 19 AGUSTUS 2018 , 05:36:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

, 17 AGUSTUS 2018 , 10:48:00