Hanura

Bogor, Kota Impian Anak-anak Korea Utara

 SABTU, 14 APRIL 2018 , 00:00:00 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Bogor, Kota Impian Anak-anak Korea Utara

Choe Jang Hung di Kebun Raya Bogor/RMOL

RMOL. Dulu dikenal sebagai kota hujan, kini Bogor dijuluki kota sejuta angkot. Apapun perubahan yang dialaminya dan apapun gelar yang disematkan ke pundaknya, bagi masyarakat Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara, Bogor tetap kota yang spesial.
"Semua anak Korea bermimpi mengunjungi Bogor. Cerita tentang kota ini ada di dalam buku sejarah yang kami pelajari di sekolah," ujar Sekjen Perhimpunan Persahabatan Korea-Indonesia (PPKI), Kim Jong A, ketika berkunjung ke Bogor, hari Kamis kemarin (12/4).

Kim Jong A datang ke Bogor bersama Kepala Taman Kanak-kanak  Kyongsang, Ri Kang Juk, dan pianis muda kelas dunia Choe Jang Hung. Ketiganya didampingi Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea (PPIK) Teguh Santosa.

Kunjungan ke Bogor itu dilakukan sehari setelah Choe Jang Hung memperlihatkan kepiawaiannya yang memukau dalam Konser Perdamaian yang diselenggarakan Jaya Suprana School of Performing Arts (JSSPA) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Bogor menjadi istimewa bagi masyarakat Korea karena disinilah, tepatnya di Kebun Raya Bogor, bunga Kimilsung "dilahirkan". Anggrek Dendrobrium itu diserahkan kepada Bung Karno kepada pemimpin Korea Utara Kim Il Sung pada tanggal 13 April 1965, dua hari sebelum Kim Il Sung merayakan ulang tahunnya yang ke 53.

Ketika menyerahkannya kepada Kim Il Sung, Bung Karno meminta agar anggrek itu dinamakan bunga Kimilsung atau Kimilsungia.

Di bulan April tahun itu Kim Il Sung berkunjung ke Indonesia selama sepuluh hari. Selain ke Bogor, ia juga sempat berkunjung ke Bandung. Kunjungannya bersamaan dengan peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).

Kisah Kimilsungia dan kunjungan Kim Il Sung ke Indonesia 53 tahun lalu itu diajarkan di bangku sekolah-sekolah Korea Utara. Selain itu, pemerintah Korea Utara juga menggelar festival bunga Kimilsungia secara besar-besaran di setiap bulan April. Puncak festival adalah tanggal 15 April, tanggal kelahiran Kim Il Sung yang disebut sebagai Hari Matahari (The Day of the Sun).
 
Dalam kunjungan ke Bogor itu Ri Kang Juk juga terharu. Matanya berkaca-kaca.

"Saya tak menyangka akhirnya bisa menginjakkan kaki di Bogor. Ini mimpi yang menjadi kenyataan," ujar Ri Kang Juk yang kini berusia 60 tahun.

Choe Jang Hung pun kurang lebih begitu.

Setelah tiba di Museum Anggrek di Kebun Raya Bogor, Choe Jang Hung yang baru berusia 13 tahun mendatangi satu persatu bunga anggrek yang sedang berkembang di ruangan khusus di sayap kiri dan kanan museum.

"Saya beruntung dibandingkan teman-teman saya yang lain," katanya.

Mereka berkujung ke ruangan khusus di lantai dua yang didedikasikan untuk Kimilsungia. Dari museum, ketiganya mengunjungi green house pembibitan anggrek. Pada tahun 2007, sebuah monumen kecil didirikan di tempat itu untuk menandai tempat "kelahiran" Kimilsungia.

Selain Kimilsungia, kunjungan Kim Il Sung ke Indonesia di tahun 1965  juga istimewa karena disertai anaknya Kim Jong Il. Itulah satu-satunya lawatan ke luar negeri yang mereka lakukan bersama-sama. [dem]
 


Komentar Pembaca
Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI
Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

, 20 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00