Hanura

Klaim Tercepat Di Dunia, 3 Jam KPU Turki Sudah Bisa Tentukan Hasil

 RABU, 08 AGUSTUS 2018 , 08:42:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

Klaim Tercepat Di Dunia, 3 Jam KPU Turki Sudah Bisa Tentukan Hasil

Sadi Guven/KPU Turki

RMOL. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Turki yang disebut Yuksek Secim Kurulu (YSK) mengklaim memiliki sistem pemilihan umum tercepat di dunia.

"Kami memiliki sistem tersendiri, tidak menggunakan internet, sehingga tidak bisa dibobol pihak lain," sebut Ketua KPU Turki, Sadi Guven di sela menerima kunjungan delegasi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Ankara, (7/8) pukul 10.00 waktu setempat.

Memiliki 81 provinsi, Turki sudah membangun sistem jaringan pemilu mandiri menggunakan satelit sendiri, sehjngga tidak mudah dibajak pihak lain. Dengan sistem tersebut, memungkinkan hasil Pemilu bisa diketahui lebih cepat.

Dalam sistem ini, didukung dengan sistem identitas penduduk tunggal yang sudah terintegrasi dan dibangun sejak 2007. Sejak bayi lahir, sudah punya identitas tunggal berdasarkan nomor kependudukan. Inilah yang dijadikan data utama dalam membangun sistem pemilu tersebut.

"Walaupun sudah bisa diketahui hasilnya, kami tetap memberikan masa sanggah 11 hari, sebelum penetapan," kata Sadi.

Meski ada masa sanggah, faktanya tidak pernah mempengaruhi hasil dari perhitungan yang ada.

Dijelaskan pula, di Turki, lembaga penyelenggara pemilu ini merupakan lembaga superbodi yang independen. Tidak ada satu pun pihak yang bisa melakukan intervensi atau mempengaruhi hasil kerja mereka. Bahkan, presiden pun tidak boleh ikut campur.

"Kami benar-benar independen, tidak ikut berpolitik. Kami hanya konsentrasi melaksanakan Pemilu berhasil dengan baik," sambung Sadi.

Lalu bagaimana jika pihak KPU Turki ini melakukan kesalahan? Dikatakan, sesama anggota lembaga ini akan saling melakukan kontrol dan tidak akan memungkinkan anggotanya melakukan kesalahan.

Lebih lanjut ia menyebutkan, anggota KPU Turki jumlahnya 11 orang. Dari 11 ini sebanyak enam orang berasal dari unsur Mahkamah Agung. Sisanya lima orang dipilih secara independen berdasarkan suara terbanyak dari masing-masing institusi.

Selain itu, dalam menjalankan tugasnya, ada juga 20 perwakilan dari parlemen atau partai politik.

"Tapi mereka hanya punya hak berpendapat, tidak punya hak suara dalam mengambil keputusan," bebernya.

Saat ini, Turki memiliki lima partai di parlemen. Jumlah pemilih berdasarkan pemilu lalu sebanyak 59 juta orang. Dari jumlah ini, partisipasi politiknya mencapai 86 persen. Dalam urusan Pemilu, semua benar-benar bergantung keputusan KPU.

"Jadi keputusan kami sama sekali tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun," tegasnya lagi.

Dalam kunjungan itu, Gubernur Lemhannas RI Letjen (Purn) Agus Widjojo menyampaikan, sengaja membawa peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 57 untuk melakukan Studi Strategis Luar Negeri.

"Dinamika politik di Turki sangat menarik untuk dipelajari, itu sebabnya kami beserta peserta PPRA Lemhannas sengaja mencari informasi ke sini," pungkasnya. [wid]

Komentar Pembaca
Indonesia Harus Belajar Dari Anjloknya Lira Turki
Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

, 14 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Hapus Ambang Batas Nyapres

Hapus Ambang Batas Nyapres

, 08 AGUSTUS 2018 , 14:37:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00