Nguyen Dan Lain-lain

Minggu, 03 Maret 2019, 18:26 WIB | Oleh: Teguh Santosa

Etcetera Nguyen/RMOL

ETCETERA Nguyen. Itu nama yang tertulis di tanda pengenal “DPRK-US Summit Hanoi” yang tergantung di lehernya.

Tanda pengenal itu dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Vietnam untuk awak media yang bertugas mengikuti pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Republik Rakyat Demokratik Korea Kim Jong Un.

Pada bagian atas tertulis “DPRK-US Hanoi Summit, Vietnam” dengan bendera kedua negara. Foto dan nama pemegang tanda pengenal diletakkan di tengah, berikut nama media. Adapun nomor akreditasi yang diberikan Kemlu Vietnam tertera di pojok kiri bawah.

Wartawan yang ingin meliput jalannya pertemuan diminta untuk mendaftarkan diri secara online. Pendaftaran ditutup seminggu sebelum pertemuan digelar. Diperkirakan lebih dari 4.000 wartawan dari berbagai negara yang mendaftarkan diri.

Tanda pengenal inilah yang sedang saya cari.

Menurut e-mail dari Kemlu Vietnam yang saya terima beberapa hari sebelumnya, permohonan saya di-approved, dan saya dipersilakan mengambil tanda pengenal di sekretariat International Media Center (IMC) yang berada di Istana Persahabatan Kebudayaan di Jalan Tran Hung Dao. IMC mulai beroperasi pada hari Selasa, 26 Februari 2019, sehari sebelum pertemuan Kim dan Trump dimulai.

Gedung ini tidak jauh dari Cong Dian Vietnam Hotel di Jalan Tran Binh Trong tempat saya menginap. Adalah teman dari Asosiasi Wartawan Vietnam yang memesankan kamar untuk saya di hotel itu. Alasannya, hotel itu sangat dekat dengan IMC.

“You can stay at this one. 2 minutes from meeting hall, super near, have restaurant arround,” tulisnya dalam pesan yang saya terima sebelum berangkat ke Hanoi.

Memang sangat dekat. Selesai sarapan di hotel saya berangkat menuju lokasi IMC, menyusuri Jalan Tran Binh Trong ke arah Jalan Tran Hung Dao, melewati perempatan yang memotong Jalan Tran Quoc Toan. Tiga panser dengan masing-masing dua tentara di atasnya di parkir di ruas jalan yang berada di belakang Istana Persahabatan Kebudayaan ini. Beberapa mobil pick up berisi polisi duduk rapi saling berhadapan.

Belakangan saya tahu membedakan seragam tentara dan polisi di Vietnam. Warna hijau pada seragam tentara lebih tua dan pekat. Sementara polisi mengenakan seragam berwarna hijau terang.

Beberapa tentara dan polisi berjaga-jaga di setiap pojok jalan yang saya lalui. Di depan Istana Persahabatan Kebudayaan jumlahnya lebih banyak lagi. Mereka memeriksa setiap orang yang ingin masuk ke komplek Istana melalui dua gerbang utama.

Karena belum mengenakan tanda pengenal resmi saya dilarang masuk. Seorang petugas wanita berbaju sipil mendekati. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya diminta datang ke sekretariat IMC untuk mengambil tanda pengenal. Saya perlihatkan e-mail dari Kemlu Vietnam.

Dia mengerti. Sekretariat dipindahkan ke gedung lain di belakang, katanya. Saya diminta memutar ke arah saya datang tadi.

Saat sedang menyusuri Jalan Tran Quoc Toan di belakang Istana Persahabatan Kebudayaan itulah saya berpapasan dengan Etcetera Nguyen.

Etcetera, biasa ditulis “et cetera”, dan biasa disingkat “etc.”, adalah istilah atau ungkapan Latin yang telah diserap ke dalam bahasa Inggris dan digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang sama serta dianggap sejenis.

Dalam bahasa Indonesia “et cetera” setara dengan “dan lain-lain”, atau “dan sebagainya”.

Adapun Nguyen adalah nama keluarga yang paling populer di Vietnam. Beberapa teman Vietnam saya memiliki nama keluarga ini.

Menurut Wikipedia, 38 persen dari sekitar 96 juta orang Vietnam menggunakan nama keluarga Nguyen.

Ada empat nama keluarga lain yang juga terbilang populer. Namun popularitas keempatnya jauh di belakang Nguyen. Tran dan Ho Khac masing-masing 11 persen, Le (10 persen), dan Pham (7 persen).

Konon nama Nguyen mulai populer setelah Raja Gia Long berkuasa pada tahun 1802. Dialah pendiri Dinasti Nguyen di negeri yang sekarang kita kenal sebagai Republik Sosialis Vietnam.

Konon lagi, saat itu banyak kalangan ningrat dari rezim sebelumnya yang terpaksa menggunakan Nguyen sebagai nama keluarga untuk menghindarkan diri dari pembunuhan politik. Ada juga yang mengubah namanya menjadi Nguyen untuk mempercepat karier di lingkungan kerajaan.

Di kalangan rakyat nama Nguyen digunakan selain karena rasa bangga juga untuk memberi kesan bahwa mereka memiliki hubungan dengan keluarga penguasa.

Pada tahun 1858 Vietnam diinvasi Prancis, dan sejak tahun 1887 Vietnam berada di bawah proteksi Prancis yang mendirikan Prancis-Indochina sampai 1945.

Raja terakhir Dinasti Nguyen, Bao Dai, yang berkuasa sejak 1926, menyusul berakhirnya Perang Dunia Kedua di bulan Agustus 1945 dengan berat hati menyerahkan kekuasaan kepada pemimpin Partai Komunis Vietnam, Ho Chi Minh. Revolusi rakyat seperti yang terjadi di banyak tempat ingin mengakhiri sistem monarki.

Setelah Bao Dai menyerah kalah Ho Chi Minh mengubah Vietnam terutama bagian utara menjadi Republik Demokratik Vietnam. Berakhirlah era Dinasti Nguyen.

Adapun Bao Dai memilih mengasingkan diri ke Prancis, dan kelak meninggal dunia dengan tenang di Paris tahun 1997.

Walau Dinasti Nguyen sudah tidak lagi berkuasa, namun reputasi Nguyen sebagai nama paling populer di seantero Vietnam tidak tergoyahkan sampai hari ini.

***

“Ini nama saya, Etcetera Nguyen. Disingkat Etc. Anda tahu kan?”

Nguyen tampaknya bisa menebak mengapa saya memberi respon agak lama saat membaca namanya. Kalimatnya barusan seakan hendak meyakinkan saya bahwa saya tidak salah membaca. Namanya memang Etcetera Nguyen, diindonesiakan menjadi Nguyen Dan Lain-lain.

Saya tidak bertanya lebih lanjut mengapa namanya tidak biasa. Sempat terpikirkan juga bahwa itu adalah nick name yang digunakannya sebagai semacam pembeda. Dengan menggunakan kata Etcetera, Nguyen yang satu ini pun jadi lebih mudah untuk diingat.

Penampilan Nguyen mirip seniman. Rambut gondrong disisir ke belakang, kumis dan jenggot tipis dibiarkan memanjang. Senyumnya mengembang. Kesan pertama, ia orang yang ramah dan tak sungkan memberikan bantuan pada orang lain yang membutuhkan.

Nguyen yang membawa ransel sedang sibuk memotret panser dan tentara yang berjaga-jaga di sepanjang Jalan Tran Quoc Toan.

Kata Nguyen, kita boleh memotret tentara-tentara itu karena mereka berada di tempat publik. Tapi tak lama kemudian seorang tentara di atas panser berteriak, melarang Nguyen memotret mereka.

Kami menjauh, Nguyen misuh-misuh.

Saya dan Nguyen harus bolak-balik di sekitar daerah itu untuk menemukan sekretariat IMC. Kami sempat mencarinya di sisi kiri, di Jalan Yet Kieu. Kami berhenti di pintu masuk klub biliard Carmen. Tentara dan polisi juga berjaga-jaga di tempat itu.

Mereka menyarankan kami untuk balik lagi ke Jalan Tran Quoc Toan. Benar, setelah lebih teliti, akhirnya sekretariat itu ditemukan juga. Di sebuah kafe yang agak terpencil. Pintu masuknya kecil, tidak bisa dilalui kendaraan.

Singkatnya, tanda pengenal itu pun saya dapat. Lalu Nguyen mengajak saya kembali ke IMC. Dia menjadi tour guide saya dan selanjutnya kami berpisah, sama-sama tenggelam di lautan wartawan.

***

DPRK-US Hanoi Summit selesai lebih awal dari yang dijadwalkan, Kamis siang, 28 Februari 2019. Berakhir tanpa penandatanganan dokumen kesepakatan apapun.

Menurut cerita Trump dalam jumpa pers sebelum meninggalkan Hanoi, ia dan Kim sepakat untuk tidak sepakat. Di akhir pertemuan di Hotel Metropole itu, Trump dan Kim berdiri, seperti saat bertemu keduanya berjabat tangan. Dan berlalu.

Saya sudah menduga sebelumnya. Ini bukan soal mudah. Keduanya sedang berusaha untuk menentukan harga terendah yang bisa mereka berikan.

Kim akan menagih janji Trump. Kim merasa sudah melakukan banyak hal, terutama menghancurkan fasilitas nuklir di beberapa tempat. Menurut Kim, kini giliran Trump memperlihatkan itikad. Setidaknya mengurangi sanksi.

Di sisi lain Trump ingin agar Kim melakukan penghancuran secara total dan terverifikasi serta tidak dapat digunakan kembali. Setelah itu baru dirinya mau membicarakan soal pencabutan sanksi. Berbeda dengan pertemuan pertama di Singapura bulan Juni 2018, dalam pertemuan kali ini Trump menyinggung soal fasilitas nuklir di Yongbyon.

“Percaya atau tidak, kita tahu setiap inchi negara itu,” ujar Trump dalam jumpa pers.

Trump tidak menghina Kim. Ini sudah tidak dilakukannya sejak mereka bertemu di Singapura. Sebaliknya, Trump tanpa sungkan kembali memuji kepiawaian Kim di meja perundingan.

Dalam berbagai forum seperti ini, pertemuan pemimpin tertinggi hanya basa-basi. Pembicaraan-pembicaraan super serius dan super penting telah dilakukan sebelumnya. Dalam pembicaraan-pembicaraan pendahuluan itulah terjadi pertarungan yang sesungguhnya.

Tetap saya tidak mau buru-buru mengatakan ini sebagai sebuah kegagalan. Dalam konteks dialog yang lebih luas, ini justru sebuah keberhasilan. Secara keseluruhan, dialog Trump dan Kim memperlihatkan dinamika, ada up dan ada down. Itu biasa. Peradaban tidak dibangun dalam satu malam.

Peristiwa di Hanoi, seperti juga di Singapura, adalah pelajaran berharga bagi keduanya, dan juga bagi kita warga dunia.

Usai pertemuan dan jumpa pers itu, Trump langsung terbang meninggalkan Hanoi. Sementara Kim memilih untuk tinggal dua hari lagi. Ia baru meninggalkan Hanoi hari Sabtu pagi, dengan kereta hijau zaitun menuju Pyongyang. Melintasi jarak sejauh 4.000 kilometer.

***

Setelah pertemuan berakhir saya memutuskan untuk melihat-lihat kota Uong Bi di Provinsi Quang Ninh, dua jam perjalanan ke timurlaut. Satu malam di tempat itu, keesokan harinya, Jumat, 29 Februasi 2019, saya kembali ke Hanoi. Kali ini menginap di Hotel Pullman di pojokan Jalan Giang Vo dan Jalan Cat Linh.

Jumat malam, awal weekend. Teman-teman saya mengatakan sempatkanlah untuk menyaksikan kemeriahan Hanoi di sekitar Danau Ho Hoan Kim yang disulap sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor.

Dari hotel saya naik taksi. Masih banyak ruas jalan yang ditutup. Sopir taksi minta maaf, tidak bisa mengantar saya ke tempat tujuan. Saya turun di persimpangan Jalan Ly Thurong Kiet dan Jalan Pho Ngo Quyen. Dari sana saja lanjutkan jalan kaki menyusuri Jalan Pho Ngo Quyen, dan berbelok kiri ke Jalan Hai Ba Trung. Di persimpangan berikutnya saya berbelok ke kanan menyusuri Jalan Pho Hang Bai, dan tibalah di salah satu pojok Danau Ho Hoan Kiam.

Betul-betul meriah. Warga Hanoi, dari anak kecil, remaja sampai orang tua kakek dan nenek berkumpul di tempat itu. Segala macam kegiatan mereka lakukan. Ada kelompok yang menggelar tarian salsa. Kelompok anak kecil main mobil-mobilan listrik, ada remaja yang main skate board. Ada yang bernyanyi.

Saya terus melangkah hingga tiba di sebuah taman di Jalan Dinh Tien Hoang. Di taman itu ada patung Kaisar Ly Thai To yang merupakan raja pertama Dinasti Ly, berkuasa dari tahun 1009 hingga 1028.

Puas melihat-lihat dan mengambil gambar secukupnya, saya kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran danau, menikmati kemeriahan.

Baru berjalan beberap puluh meter, saya mendengar suara memanggil-manggil nick name saya berkali-kali. “T” dibaca “ti” seperti penyebutan kata “tea” di dalam bahasa Inggris yang berarti “teh” di dalam bahasa Indonesia.

Kata ini sering saya gunakan untuk mempermudah kenalan baru dari luar negeri.

Tadinya saya biarkan saja teriakan itu. Tetapi karena terdengar berulang kali, akhirnya saya menoleh juga ke arah suara.

Dan di sisi kiri jalan, duduklah Etcetera Nguyen. Senyumnya mengembang. Kami kembali berjabatan tangan.

Malam itu Nguyen menjadi pelukis jalanan.

“Ini cara saya hidup,” katanya.

“Ayo lukis saya,” kata saya sambil duduk di bangku pendek yang ada di situ.

Dia pun mengeluarkan kertas dan pinsil-pinsilnya yang beraneka rupa. Selama melukis, kami membicarakan sejumlah hal.

Hal pertama adalah soal pertemuan Trump dan Kim.

Dia bilang, warga Hanoi kecewa. Mereka berharap pertemuan berbuah kesepakatan seperti di Singapura.

Di pojok-pojok jalan Anda bisa menemukan spanduk berukuran raksasa bertuliskan Hanoi Kota Perdamaian. Itu sudah menjadi obsesi warga.

Saya katakan kepada Nguyen, inilah dinamika kehidupan. Tidak gagal, justru berhasil. Keduanya semakin saling mengenal. Keberhasilan dialog tidak diukur hanya dari selembar kertas yang ditandatangani.

Dia tersenyum. Setuju, katanya.

Lalu saya bertanya tentang dirinya, tentang aktivitasnya sebagai wartawan dan pelukis jalanan.

Nguyen adalah kepala ilustrator di Viet Weekly. Setiap akhir pekan ia menjadi pelukis jalanan. Pekerjaan sampingan ini dilakoninya sejak beberapa tahun lalu.

Saat masih kecil, ia ikut ayah dan ibunya pindah ke Kalifornia. Tapi beberapa tahun lalu, Nguyen memutuskan kembali ke Hanoi dan menikah dengan wanita Vietnam di kota ini. Kedua orangtuanya masih tinggal di Kalifornia.

“Ini cara saya untuk hidup,” katanya lagi.

Dia juga sempat bertanya tentang situasi politik di Indonesia. Saya menjelaskan secukupnya. Dia mengangguk-angguk.

Nguyen pelukis jalanan yang profesional. Dia menyelesaikan lukisannya kurang dari 10 menit. Dia ambil plastik berperekat dari dalam tasnya. Lalu dengan sedemikian rupa dia buka lapisan kertas plastik itu dan merekatkannya ke lukisan wajah saya. Lalu diambilnya plastik bening. Dimasukkannya lukisan itu.

“Sekarang sudah aman. Anda sudah punya cinderamata yang luar biasa dari Hanoi,” katanya lagi.

“Setelah melukis Anda, wajah Anda akan selalu saya ingat,” ujarnya.

Sebelum pergi saya tanya Nguyen, “Berapa yang harus saya bayar?”

Dia menyebutkan sejumlah angka. Saya ambil dong dari dompet dan menyerahkan kepadanya.

“Terima kasih telah mendukung kehidupan sesama wartawan,” sambut Nguyen.

Kami pun tertawa lagi. Lalu saya pamit undur diri.
Editor:

Kolom Komentar


loading