Kasus Yang Menimpa Siti Aisyah Sudah Aneh Sejak Awal

Selasa, 12 Maret 2019, 12:04 WIB | Oleh: Teguh Santosa

Teguh Santosa di Pyongyang/Net

KITA patut bersyukur dan menyambut gembira pembebasan Siti Aisyah dari segala tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya terkait kematian warganegara Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dua tahun lalu.

Bagaimanapun, kasus kematian WN Korea Utara itu sudah aneh sejak awal.

Siti Aisyah bersama seorang wanita asal Vietnam, Doan Thi Huong, dituduh melakukan pembunuhan. Mereka disebutkan berpura-pura sedang shooting sebuah acara reality show, lalu menghampiri pria itu dari belakang dan mengusapkan sesuatu ke wajahnya.
Partai Berkarya

Pria itu kemudian terhuyung-huyung, mendatangi petugas bandara, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Rekaman CCTV yang memperlihatkan dua fragmen tersebut disebarkan dan dikutip berbagai media massa dan sosial media. Disebutkan kemudian bahwa pria yang meninggal itu bernama Kim Jong Nam, saudara tiri Ketua Umum Partai Pekerja Korea, Kim Jong Un.

Juga disebutkan bahwa Siti Aisah dan Doan Thi Huong membunuhnya dengan cara mengusapkan zat kimia pembunuh VX ke wajahnya atas permintaan pihak lain.

Peristiwa ini diikuti drama diplomatik antara Malaysia dan Korea Utara.

Malaysia mengusir Dutabesar Korea Utara, Kang Chol. Dengan terpaksa Kang Chol angkat kaki dari Malaysia tanpa pernah sekalipun melihat jenazah warganegara Korea Utara itu. Dia tidak diberi kesempatan sedetik pun.

Malaysia juga sempat melarang semua diplomat Korea Utara meninggalkan Malaysia. Sebelum akhirnya melepaskan mereka kembali ke Korea Utara.

Korea Utara membalas tindakan itu, mem-persona non grata Dubes Malaysia, Mohamad Nizan Mohamad, dan sempat juga melarang diplomat Malaysia meninggalkan Korea Utara.

Mereka baru diperbolehkan pulang ke Malaysia setelah warganegara Korea Utara itu dikembalikan ke Pyongyang.

Bulan Oktober lalu saat berkunjung ke Pyongyang, saya sempat minta diantar melewati gedung Kedutaan Malaysia yang hanya beberapa blok dari Kedubes RI.

Gerbang tertutup rapat. Rumput di bagian depan sudah tinggi tidak terawat. Bendera Malaysia masih berkibar dalam keadaan lusuh dan rapuh.

Hubungan Malaysia dengan Korea Utara sebelum peristiwa itu sebenarnya amat baik.

Bahkan lebih baik dibandingkan dengan hubungan Indonesia dengan Korea Utara.

Ilustrasinya begini: warganegara Malaysia sebelum peristiwa itu tidak membutuhkan visa untuk berkunjung ke Korea Utara. Pesawat Air Koryo juga pernah terbang langsung dari Pyongyang ke Kuala Lumpur sebelum akhirnya tutup karena kekurangan penumpang.

Lalu, bila berkunjung ke Pyongyang, kita bisa dengan mudah menemukan produk-produk Malaysia di hotel kita. Baik sabun dan shampo maupun makanan kemasan dan minuman kaleng.

Sementara bagi Indonesia, hanya diplomat saja yang bisa bebas visa ke Korea Utara untuk beberapa waktu yang dibatasi. Demikian juga dengan diplomat Korea Utara yang berkunjung ke Indonesia. Sementara untuk warganegara biasa, sudah pasti memerlukan visa.

Hubungan Indonesia dan Korea Utara lebih didasarkan pada catatan sejarah bahwa pendiri Korea Utara pernah berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri peringatan satu dasawarsa Konferensi Asia Afrika (KAA). Itu kunjunga yang istimewa, karena Kim Il Sung membawa putranya, Kim Jong Il.

Hanya dalam kesempatan itulah keduanya, Kim Il Sung dan Kim Jong Il, berpergiaan bersama ke luar negeri.

Juga dalam kunjungan itu Bung Karno menyerahkan bunga anggrek kepada Kim Il Sung. Kini setiap tanggal 15 April, hari kelahiran Kim Il Sung, pemerintah Korea Utara menggelar pameran Bunga Kim Il Sung secara besar-besaran di seluruh pelosok negeri.

Tiga Teori

Setelah peristiwa di KLIA itu, frame tunggal yang ditampilkan hampir semua media berpengaruh di dunia adalah: Kim Jong Un perintahkan pembunuhan saudara tirinya, Kim Jong Nam, yang sejak lama hidup dalam pembuangan.

Sejumlah media di tanah air pernah menghubungi saya untuk mendapatkan penjelasan mengenai apa yang terjadi sebenarnya.

Saya selalu memberikan disclaimer bahwa saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di tempat kejadian perkara (TKP). Saya hanya bisa mendekati kasus itu dari pemahaman umum saya mengenai Korea Utara, karakter politik dan hubungan baiknya dengan sejumlah negara, termasuk Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Saya juga menggunakan pemahaman saya atas ketegangan di Semenanjung Korea dan kawasan Asia Timur yang dua tahun lalu masih amat tegang. Beda dengan sekarang.   

Dengan semua perangkat analisa itulah saya berani mengatakan ada tiga teori yang bisa digunakan untuk menjelaskan kasus ini.

Pertama, teori pembunuhan biasa ala mafia. Teori ini didukung oleh karakter “Kim Jong Nam” yang digambarkan oleh media Barat sebagai sosok yang punya bisnis tidak jelas, gemar menggunakan dokumen palsu saat berkunjung ke negara lain, gemar main judi dan perempuan.

Teori kedua dan ketiga adalah teori pembunuhan politik, yang saya bagi menjadi varian A dan varian B.

Teori pembunuhan politik varian A mengikuti frame umum yang dikembangkan pihak-pihak berkepentingan saat itu bahwa mastermind pembunuh Kim Jong Nam adalah Korea Utara. Dalam teori ini, Kim Jong Nam dianggap berbahaya dan mengancam penguasa.

Ini adalah teori yang paling lemah. Tidak mudah bagi Korea Utara untuk menjalin hubungan persahabatan dengan pihak lain. Apalagi hubungan kejahatan.

Sementara teori pembunuhan politik varian B menyebutkan bahwa mastermind pembunuhan adalah pihak lain di luar Korea Utara. Tingkat kemungkinan teori ini sangat tinggi. Bukan tidak mungkin memang ada upaya untuk semakin menyudutkan Korea Utara yang ketika itu masih “membandel”.

Dulu Diam adalah Emas

Pihak Korea Utara sejak kasus tersebut muncul ke permukaan berusaha memberikan tanggapan. Sejauh yang saya perhatikan, upaya itu kurang mendapat sambutan.

Drama sudah kadung memenuhi ruang publik. Drama adalah apa yang dicari-cari. Peristiwa yang biasa saja, apa adanya, kurang diminati.

Di Jakarta, saya berusaha meyakinkan Dubes Korea Utara, An Kwang Il, untuk mau memberikan pernyataan mengenai kasus ini.

Berkali-kali ia menolak permintaan saya. Dia tidak mau pernyataannya akan digunakan untuk semakin memojokkan posisi negaranya.

Kepada Dubes An saya berkata, dulu diam adalah emas. Tetapi hari ini, kalau Anda memilih terlalu diam, pihak lain yang akan bercerita tentang diri Anda. Cerita yang sesuka hatinya.

Akhirnya Dubes An setuju. Wawancara kami lakukan di Kedubes.   

Saya menanyakan sejumlah hal, mulai dari hubungan Korea Utara dan Malaysia yang terganggu karena kasus ini, juga soal apakah benar jatidiri warganegara Korea Utara yang meninggal dunia di KLIA itu adalah seperti yang disebutkan oleh frame umum yang sudah tersebar luas dan digemari masyarakat dunia.

Dubes An mengatakan, Malaysia dan Korea Utara harus bekerjasama dengan baik sehingga menjadi jelas apa penyebab kematian warganegara Korea Utara itu.

Dia menambahkan, yang tewas di KLIA itu adalah Kim Chol, seorang diplomat Korea Utara yang sudah seminggu sebelumnya berada di Malaysia dan sedang menunggu penerbangan ke Beijing.

“Kami sudah mengklarifikasi identitas warganegara kami yang tewas itu kepada pihak Malaysia, tetapi Malaysia lebih percaya pada informasi yang disampaikan pihak negara ketiga. Ini tidak baik,” ujar Dubes An.

Penjelasan mengenai penggunaan gas kimia VX untuk menghabisi nyawa warganegara Korea Utara itu pun tidak bisa dipercaya.

Gas kimia VX sangat kuat dan sangat mematikan. Bagaimana mungkin “korban” bisa tewas sementara pihak yang mengusapkan gas itu tidak terganggu sama sekali.

Polisi Malaysia saat melaporkan pertama kali kabar kematian Kim Chol ke pihak Kedubes Korea Utara di Kuala Lumpur menemukan obat-obatan jantung di sakunya. Jadi, kemungkinan besar, Kim Chol tewas karena serangan jantung.

Tetapi, setelah berkomunikasi dengan “negara ketiga”, pihak Malaysia mengubah cerita dan menolak keterlibatan Korea Utara dalam proses otopsi. Dubes Korea Utara di Malaysia, Kang Chol, pun tidak diizinkan melihat tubuh korban.


Wawancara lengkap baca Dubes Korut: Malaysia Lebih Percaya Informasi Pihak Ketiga


Asia Timur Unik

Senin menjelang siang (11/3), saya sedang mengajar mata kuliah Politik Asia Timur di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ketika mengetahui pertama kali soal pembatalan segala dakwaan untuk Siti Aisah dalam kasus ini.

Tema kuliah kemarin adalah keamanan bersama di kawasan Asia Timur. Saya berikan proposisi bahwa security (keamanan) adalah situasi dimana defense (pertahanan) lebih besar daripada ancaman (threat).

Kawasan Asia Timur unik. Semua negara di kawasan itu memiliki keunggulan, punya cerita tidak enak satu sama lain di masa lalu. Tidak ada organisai kawasan yang menyatukan mereka. Setiap negara membangun sistem pertahanan yang khas, dan dengan aliansi bersama pihak lain di luar kawasan, setiap negara di Asia Timur punya kemampuan deterrence atau penangkal yang memadai.

Lalu, seorang teman dari negara ketiga mengirimkan foto Siti Aisah diapit Menteri Hukum-HAM dan Dubes RI untuk Malaysia. Juga foto pesawat jet pribadi yang akan membawa Siti Aisah ke Halim Perdanakusuma.

Saya senang hanya melihat kedua foto itu. Di benak saya terlintas berbagai pembicaraan dengan banyak pihak mengenai peristiwa yang terjadi di KLIA.

Awalnya, saya tidak berminat bicara tentang kasus ini. Alasan pertama dan utama, saya tidak tahu detail kasus ini. Tidak berada di TKP, tidak pernah bicara langsung dengan saksi mata, pihak yang dituduh sebagai pelaku, juga tidak pernah melihat tubuh korban dan membaca hasil otopsi.

Sementara gelombang pemberitaan dengan frame pembunuhan politik sudah sedemikian gencarnya. Bagai tsunami. Menggulung semua akal sehat. Membuat banyak pihak, juga wartawan seperti kehilangan akal. Menelan bulat-bulat.

Saya baru tertarik bicara setelah seorang wartawan bertanya kepada saya, apakah benar di lantai dua restoran Pyongyang di Kelapa Gading adalah tempat rekruitmen mata-mata Korea Utara.

Saya tahu restoran itu. Pernah beberapa kali makan disana. Pejabat resmi pemerintah juga ada yang pernah kesana menghadiri kegiatan resmi Kedubes Korea Utara.

Tetapi atas pertanyaan yang disampaikan, saya tidak tahu sama sekali. Ini pertanyaan, atau jebakan. Sempat terlintas pertanyaan itu di benak saya. Tetapi saya yakin, ini hanya perasaan saja. Teman wartawan yang menanyakan hal itu tentulah benar-benar ingin bertanya.

Maka jawaban saya adalah: saya tidak tahu. Setahu saya di sebelah kiri restoran Pyongyang ada restoran Korea Selatan. Jangan-jangan lantai dua restoran Korea Selatan itu juga tempat rekruitmen mata-mata Korea Selatan.

Demi membaca jawaban saya, teman wartawan yang mengajukan pertanyaan tertawa. Dan tawa itu ditulisnya. Saya kira, dia benar-benar tertawa di ujung sana.

Tak lama setelah peristiwa itu, restoran Pyongyang tutup. Saya dengar, restoran ditutup karena pemilik gedung tidak memperpanjang kontrak. Mungkin khawatir terseret-seret juga dalam kasus ini. Ini dugaan saya.

Saya sempat mengajukan pertanyaan kepada seorang teman yang saya rasa tahu banyak hal mengenai Korea Utara. Terlepas dari kasus di KLIA, apakah memang ada sosok yang namanya Kim Jong Nam di Korea Utara.

Teman saya ini mengatakan, Kim Jong Nam memang ada. Dulu sekali namanya sering terdengar. Sempat diberi jabatan di semacam institusi kebudayaan. Sampai ia menikah dengan wanita yang tidak disukai sang ayah, Kim Jong Il. Lalu tersingkir.

Tetapi, teman saya ini tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Dia juga tidak tahu apakah Kim Jong Nam memang terusir dan seterusnya.

Saya pernah tanyakan hal ini kepada Dubes An. Apakah ada sosok yang bernama Kim Jong Nam? Jawaban Dubes An tidak bisa saya ganggu gugat: kami tidak bisa membicarakan keluarga VIP.

Untuk menutup tulisan yang bisa panjang ini, saya ingin mengatakan satu hal. Peristiwa di KLIA terjadi dua tahun lalu. Warganegara Indonesia, Siti Aisah yang awalnya dituduh ikut dalam pembunuhan warganegara Korea Utara -- siapapun dia -- akhinya dibebaskan dari semua dakwaan. Ini bukan vonis tidak bersalah. Ini adalah pencabutan dakwaan. Berarti yang dituduhkan padanya tidak ada.  

Dua tahun setelah itu, banyak hal yang telah terjadi terkait Korea Utara dan ketegangan di Asia Timur.

Bulan April tahun lalu, untuk pertama kali Kim Jong Un bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jaein di Panmunjom. Lalu di bulan Juni 2018 Kim Jong Un bertemu dengan Presiden Donald Trump di Singapura. Ini dua terobosan penting di papan catur Asia Timur.

Moon Jaein telah pula berkunjung ke Pyongyang, Korea Utara. Di hari terakhir, mereka berkunjung ke puncak Gunung Paektu. Gunung sakral bagi bangsa Korea. Gunung yang melambangkan semangat nenek moyang mereka. Gunung Paektu dan Gunung Hala di Pulau Jeju, Korea Selatan, adalah dua penjuru persaudaraan Korea.

Dua minggu lalu, saya menghadiri KTT Korea Utara dan AS di Hanoi, Vietnam. Di akhir pertemuan, Kim Jong Un dan Donald Trump tidak menandatangani kesepakatan apapun. Padahal semua hal pada draft telah disepakati.

Banyak pihak yang mengatakan itu adalah kegagalan. Tetapi saya kira, itu adalah keberhasilan keduanya untuk saling mengenal. Ada tema yang tidak atau belum dibahas, mendadak diajukan di atas meja perundingan.

Hal itu tidak mengurangi semangat keduanya untuk tetap menjalin komunikasi demi perbaikan hubungan. Komentar pihak Korea Selatan pun positif. Juga memandang, pertemuan Hanoi menampilkan sisi lain sebuah keberhasilan diplomasi.

Saya berharap pencabutan atau pembatalan dakwaan untuk Siti Aisah ini juga bermakna positif dan konstruktif terhadap perdamaian di Semananjung Korea.

Penulis adalah wartawan senior, dosen politik Asia Timur. 
Editor: Ade Mulyana

Kolom Komentar


Video

Aplikasi Pengawal TPS Di Pemilu 2019

Senin, 25 Maret 2019
Video

Utamakan Guru Honorer Ketimbang Pengangguran

Senin, 25 Maret 2019
Video

Kampanye Terbuka, Kedua Paslon Langgar Peraturan

Senin, 25 Maret 2019
loading